Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

MENYOAL PENTINGNYA LIKUIDITAS

sahamKrisis yang melanda dunia memang tidak secara langsung menghantam sektor riil. Namun krisis yang serius bisa segera melanda jika terjadi krisis kepercayaan terhadap sektor perbankan. Terutama karena Indonesia merupakan negara yang mempunyai ketergantungan yang sangat besar pada bank konvensional. Krisis yang menimpa sebuah bank dapat dengan mudah memicu risiko sistemik yang menggoyahkan kepercayaan terhadap sektor perbankan.

Dalam perbankan konvensional, sering kita dengar istilah ‘kesulitan likuiditas’. Istilah ini tentunya masih terdengar asing ditelinga rakyat yang lebih tahu arti ‘kesulitan hidup’ sehari-hari daripada arti ‘kesulitan likuiditas’. Kenapa bank-bank konvensional bisa sampai kesulitan likuditas? Mengapa kesulitan likuiditas ini berlaku serentak? Bukankah namanya likuiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain? Kenapa krisis likuiditas selalu serentak dan bersamaan? Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank konvensional dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likuiditas.

Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global. Mayoritas likuiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.

Untuk memahami hal ini, ambil saja suatu perumpamaan. Bayangkan anda mempunyai uang Rp 1 Milyar dan anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5 persen-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5 persen atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95 persen-nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E, E ke F, dst.

Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 persen berpotensi menghasilkan likuiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.

Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang anda tersebut anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui sistem perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut. Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.

Jadi yang terjadi dalam krisis likuiditas global sekarang bukan karena likuiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain seperti mengalirnya air, melainkan likuiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.

Selama sistem perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang sedang bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.

Akhir-akhir ini, likuidasi Bank Indover menarik untuk dibicarakan. Penyelamatan bank ini, dengan injeksi dana 545,6 juta euro adalah bukti bahwa Indonesia tidak mempunyai mekanisme dan prosedur yang cukup baik dalam pengelolaan krisis.

Bank Indover berstatus cukup unik, yakni ‘dimiliki Bank Indonesia’, bank sentral. Di mata investor dan kreditor, tentu saja Indover dipandang lebih ”aman” ketimbang bank swasta meskipun status bank ini masih sedikit di bawah bank-bank milik pemerintah yang memiliki jaminan implisit dari pemerintah Indonesia.

Pada masa krisis keuangan seperti ini, munculnya berita utama ”bank milik bank sentral Republik Indonesia akan dilikuidasi” tentu merisaukan. Kreditor dan perbankan internasional pasti khawatir. Jika bank milik bank sentral saja tidak diselamatkan, bagaimana nasib bank-bank swasta di Indonesia jika nanti tertimpa krisis?

Dampak dari keraguan akan kredibilitas bank-bank Indonesia pascakrisis Bank Indover sudah mulai terlihat. Berita bahwa Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui bailout plan cukup menenangkan pasar. Namun kritik dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang notabene bagian dari pemerintah atas rencana bailout ini menunjukkan betapa kurangnya koordinasi internal. Ini juga menunjukkan kurangnya kesadaran atas potensi krisis kepercayaan apabila Indover dilikuidasi

Inilah sulitnya menerapkan sistem ekonomi yang secara keseluruhan bergantung pada kepercayaan pemilik modal. Jika para pemodal kehilangan kepercayaan, modal ditarik, maka likuiditas akan hilang, perbankan dan ekonomi negara bisa ambruk. Dengan Monetary Based Economy, uang menjadi komoditas perdagangan dengan nilai fluktuatif. Berbeda dengan sistem Syariah yang menerapkan Real Based Economy, dimana uang hanya menjadi alat tukar. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah nyata (real) dalam produksi barang atau jasa.

Dengan sistem ekonomi yang diterapkan sekarang, kesejahteraan hanya terpusat disatu titik, yaitu pasar modal. Sementara rakyat tidak juga bergeser dari posisinya, sekedar jadi faktor produksi.

November 4, 2008 - Posted by | Economy |

6 Komentar »

  1. Saatnya melepaskan diri dari ekonomi kapitalistik.
    Menurut abang,selama ini dunia ekonomi cuma terpaku pada suply, demand, dan rata2, tapi pemerataan tak pernah digubrisnya.Negara kita kaya,tapi kekayaannya tidak terdistribusi merata.

    Maaf abang tak bisa jenguk adik waktu dirumah sakit.Abang lagi di surabaya sekarang.Nanti abang pulang bawa kejutan untuk adik.Tunggu ya!

    Nah,bagaimana pula kabar doktermu itu? Nampaknya adik abang ini tak sendirian lagi.Suruh Fardan menghadap abang kalau pulang nanti ya!

    Jangan lupa,jaga kesehatan selalu

    Wia said :
    “Ya.. Pertumbuhan ekonomi saat ini dipikir layaknya seperti oksigen dimana setiap orang punya ‘kemampuan’ yg sama untuk mendapatkannya. GNP tinggi belum tentu rakyat sejahtera. Rata2 itu tidak bisa menjadi ukuran bahwa ‘tak satu rakyatpun yg tak makan’.

    Iya bang, gpp.. Ini wia dah sembuh.. Eh, kejutan??? Kejutan apa bang??? Tuh kan, main rahasia2-an..

    Dokter??? Perasaan nggak mirip dokter.. Kebetulan aja dia dokter.. (hayah…….!!!)
    Maksud abang apa sih? Wia nggak ngerti.. Hehehe.. Wia kan masih dalam masa pertumbuhan.. 😛
    Kok abang nggak ngomong langsung sama dokter Fardan? Kok lewat wia?😛

    Iya bang.. Abang adalah orang yg ke-seratus sekian, yg memerintahkan wia untuk jaga kesehatan. InsyaAllah wia nggak jago lembur lagi😀

    Thanx ya bang.. Semoga bisnisnya lancar.. “

    Komentar oleh M.A.Tampubolon | November 5, 2008 | Balas

  2. bubye capitalism😀

    Wia said :
    “Welcome Syariah…😀
    Makasih ya untuk kunjungan baliknya ^_^ “

    Komentar oleh namada | November 5, 2008 | Balas

  3. saya gak ngerti masalahh politik ekonomi mbak…

    Wia said :
    “Gpp kok mas, kita sama2 belajar yuk.. Saya juga bukan dari FE, bukan juga dari FISIP, tapi saya pelajari semua. Kebetulan dosen kenalan saya banyak dari sono:mrgreen:
    Lagipula Hukum, Politik, Ekonomi, adalah tiga hal yg tak bisa dipisahkan satu sama lain.”

    Komentar oleh yakhanu | November 9, 2008 | Balas

  4. aku gak ada uang sebanyak itu di bank
    jadi ga usah takut
    gak akan di tarik kok
    ehehehehhe

    Wia said :
    “Hayahh… Si bapak, aya-aya wae’😛
    Tapi ntar klo ada diut segitu, jangan lupa bagi2 ya pak😉 “

    Komentar oleh satya sembiring | November 9, 2008 | Balas

  5. aku suka caramu menuliskan kasus disertai gagasan solusi
    bahkan sempat ku bertanya-tanya
    tentang adikku yang hebat ini

    aku rindu ekonomi syairah membumi

    Wia said :
    “InyaAllah Islam akan selalu dimenangkan kak..
    Maka kita pun harus sungguh2 dalam memperjuangkannya..
    Adik ini tidaklah hebat, hanya seorang hamba Allah yang tak mau tunduk pada dunia. ^_^ “

    Komentar oleh achoey | November 10, 2008 | Balas

  6. kita mulai daridiri sendiri insya allah

    Wia said :
    ” Sekalian kita ingatkan yang lain bung.😀
    Jangan sampai kita malah jadi ‘jumud’, ksian nanti anak cucu kita (dan anak cucu orang lain tentunya..)
    Dakwah kan wajib😉

    Dan terimakasih atas kunjungan balasannya.. Keep write (^_^) “

    Komentar oleh syahrizal pulungan | November 12, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: