Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

SAAT RAKYAT TERPAKSA MAKAN SAMPAH

“Yang kaya makan di restaurant, yang miskin makan sampahnya!!”. Begitu ucap salah seorang bapak yang saya dengar ketika kami sama-sama nonton TV di lobi sebuah Rumah Sakit. Beberapa hari lalu program berita di hampir seluruh saluran televisi memberitakan tentang penemuan tempat pengolahan makanan daur ulang sampah restaurant. Daging-daging busuk buangan restaurant diolah kembali, dicuci, lalu digoreng dengan minyak dengan minyak yang sudah berkali-kali dipakai, kemudian dijual dengan kisaran harga yang murah. Konon produk daur ulang sampah tersebut laku keras di kalangan masyarakat miskin. Ironisnya lagi, produksi makanan sampah ini sudah berlangsung selama 5 tahun. Maka muncul pertanyaan, “Selama 5 tahun itu pemerintah ‘kemana saja’?? Sampai tidak tahu rakyatnya makan sampah!”

Sesuai aturan hukum yang berlaku, pelaku daur ulang makanan sampah dapat dijerat dengan UU Kesehatan dengan sanksi maksimal 15 tahun penjara. Namun pemerintah tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu), bahwa menangkap dan menghukum saja tidak akan menyelesaikan masalah ‘rakyat makan sampah’ ini. Selain yang memproduksi makanan sampah secara massal, masih banyak yang memproduksi dan mengkonsumsi makanan sampah secara sendiri-sendiri.

Setiap harinya dikota-kota besar di Indonesia, banyak anak jalanan ataupun gelandangan yang berburu nasi bekas dirumah-rumah makan. Ada yang langsung dimakan (kalau masih layak makan), atau dibuat nasi aking (jika sudah basi). Nasi aking ini pun jadi komoditas jual-beli antar orang miskin, sungguh memilukan. Saya sempat coba bagaimana rasanya nasi aking itu, dan Masya’Allah, saya tidak sanggup memakannya. Akhirnya nasi itu cuma saya pandangi sambil menangis. Tragis sekali nasib rakyat miskin, rakyat yang menurut konstitusi harus disejahterakan pemerintahnya. Namun pada prakteknya rakyat selalu saja menanggung kepahitannya sendiri. Menatap hiruk pikuk kehidupan metropolitan dengan hati remuk redam.

Di tempat berlainan,masih dengan dilema yang sama, ada pasar-pasar yang menjual makanan dan minuman kemasan seperti roti, susu UHT, susu kental manis, susu bubuk, corned, sarden, kue kering, dll, dengan harga yang sangat murah. Namun produk-produk itu semua hampir memasuki masa kedaluarsa, bahkan ada yang sudah kedaluarsa. Saya lihat roti dan kue kering yang dijual sudah ditumbuhi jamur, dan produk susu pun kebanyakan sudah berubah aroma, rasa, ataupun warna. Namum tetap saja barang-barang ini laku dikalangan rakyat miskin. Pemerintah sekali lagi tidak berdaya menghadapi ini. Padahal produk-produk berbahaya tersebut juga dikonsumsi anak-anak. Terus terang saya dulu juga pernah makan yang seperti itu. Kalau ada yang bertanya kenapa, alasannya sangat sederhana “Uang tak ada”.

Masalah ini bukan hanya wujud dari lemahnya fungsi pengawasan pemerintah, namun juga merupakan wujud dari gagalnya pemerintah mensejahterakan rakyatnya. Bantuan dari pemerintah seperti BLT banyak yang meleset, penghasilan tidak meningkat, namun harga-harga kebutuhan pokok makin melambung, terlebih di bulan ramadhan ini. Jangankan memikirkan baju lebaran, mau makan saja susah.

“Apa rakyatku sudah makan hari ini? Makan apa mereka?” Pertanyaan-pertanyaan itu kiranya tak pernah muncul di benak elite politik negeri ini. Saya pun jadi membandingkan saat ini dengan masa-masa kekhilafan dimana zakat terdistribusi merata. Dan hasil alam bukannya dijual, tapi dimasukkan dalam Baitul Mal dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Dibawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, wilayah keKhilafahan yang meliputi jazirah Arab dan Eropa (hampir sepertiga wilayah dunia) yang hanya diperintahnya selama 22 bulan benar-benar makmur, sampai-sampai zakat tidak ada yang mau lagi menerima.

Berkaca dari dunia modern saat ini GNP tinggi tidak menjamin kesejahteraan merata. Bahkan dinegara maju dipenjuru bumi manapun. Ekonomi capital adalah kesejahteraan yang membunuh kesejehteraan pihak lain. Bicara dalam scope dunia, maka yang dikorbankan adalah Negara dunia ketiga. Bicara dalam scope dalam negeri, maka yang dikorbankan adalah rakyat kecil. Sungguh menyedihkan….

September 27, 2008 - Posted by | Opini |

7 Komentar »

  1. Mengingat otak lu yg encer itu, kaya’nya nggak percaya ternyata lu juga salah satu dr generasi kurang gizi😛
    Iya sih, seharusnya ada pemerataan ekonomi. Lu liat aj tuh konstitusi kita, disebutkan bahwa orang miskin itu tanggung jawab negara. Sebetulnya bukan masalah gimana pemerintah ngasih makan rakyat miskin, tapi gimana supaya yg miskin itu jd sejahtera. Nggak miskin terus! Nyadar nggak, kemiskinan sekarang diwariskan dari generasi ke generasi.
    Btw, wia ada waktu nggak discus masalah kristologi? Ada yg request lho..

    Wia menjawab :
    >> “Itu kan gara2 sering makan gratis ditempatmu😀 Makanya, jd pinter (pinter cari alasan untuk makan gratis maksudnya😛 )
    Dengan sistem ekonomi sekarang, perputaran uang hanya terjadi dari orang kaya ke orang kaya lain, berlindung dibalik korporasi dan birokrasi, serta UU pesanan yang khusus dibuat untuk memuluskan liberalisasi ekonomi. Rakyat kecil cuma bagian dari faktor produksi yg cuma berfungsi sebagai ‘alat’.
    Kedaulatan rakyat semu.. Kita disuguhi fatamorgananya saja😦
    Hmm.. Kristologi itu lumayan berat jo. Saya tidak yakin cukup capable. Kalau bapak L.S.Mokoginta sih saya percaya 100%, contact beliau saja!
    Siapa yg request?
    Kalau memang penting, ntar biar aku ama Maria yg bantu. Soalnya kalau sendirian rasanya tidak enak juga😛

    Komentar oleh Joana Sirait | September 27, 2008 | Balas

  2. ohhh.. kasihan sudah melarat. di tipu pula.
    padahal jerih payah untuk mengumpulkan uang ingin membeli susu dan makanan. tapi yang dapat malah sampah dan makanan beracun..
    masih ada juga orang yang tega

    Wia menjawab :
    >> “Hukum sulit ditegakkan selama kesejahteraan cuma ada di awang2. Benar juga pak, kemiskinan memang dekat dengan kekufuran. Lapar bisa membuat orang gelap mata.
    Sulit memang pak, kalau mau beli yg fresh, harganya kan lebih mahal. Melihat kondisi seperti ini, maka orang berpikir bagaimana cara membuat makanan yg murah (meski berbahaya).
    Rakyat tak sempat lagi berpikir kesehatan, yang penting makan…
    Semoga nasib anak cucu kita kelak lebih baik pak ^_^
    Dan pemerintah secepatnya bertobat dari sistem ekonominya yang sangat tidak pro-rakyat…

    Terimakasih untuk kunjungannya pak Dosen. Hehe… Semoga semua mahasiswa akan semakin kangen sama anda selama liburan ini😀
    q^-^p “

    Komentar oleh satya sembiring | September 29, 2008 | Balas

  3. nasi aking yah lumayan sih daripada lapar… lebih miris lagi keadaan seorang balita dekat rumah saya dia meminum air sagu karena tidak ada susu. kalau begini terus kapan mencetak generasi yang sehat akal dan jasmani ya mbak… dan juga banyak teman2 saya yang otaknya encer pula tidak dapat meneruskan sekolah bahkan rela menjadi seorang pelacur hanya karena N-A-S-I makan oleh karena itu saya amat benci pemerintahan yang tak adil ini dan semua itu menumbuhkan sikap skeptis saya pada semua orang..

    Wia menjawab :
    >> “Lho.., kok nggak dibantu tetangganya bung. Bung Ikrar yang ada disitu, cobalah lakukan sesuatu agar balita itu bisa minum susu. Kalau tak bisa tolong semuanya, paling tidak yg paling dekat sama rumah bung Ikrar dulu. Kasihan itu anak lama2 bisa kena gizi buruk.. Atau cari link bantuan ke teman2 di kampus. Abis kelamaan nungguin pemerintah.. Jangan dibiarkan bung, kasihan…
    Sama teman bung yg terjun ke prostitusi tolong dimuhasabahi, cari nafkah itu boleh, tapi zina tetap haram. Tidak akan jadi halal hanya karena lapar. Percayalah masih banyak pekerjaan lain, meskipun hasil lebih sedikit, tapi lebih mulia dihadapan Allah. Allah, tidak pernah menyesatkan hambanya, tinggal bagaimana hambanya berikhtiar dijalan yang lurus.
    Takutlah kepada Allah, seseungguhnya kehidupan di dunia tidaklah kekal..
    Tolong dinasehati, dia saudara kita, wajib kita tolong…”

    Komentar oleh ikrarestart | September 29, 2008 | Balas

  4. cukup simple masalahnya adik saya yang berjumlah 7 orang juga kekurangan minum susu. (karena bapak saya sangat mencintai rokok yang 1 hari 2 bungkus) oleh karena itu saya menjadi pembenci rokok. untuk minum susu paling banter saya sekeluarga 1 bulan sekali dan untuk teman saya itu sudah tidak tahu lagi kemana bukan karena saya memutuskan hubungan pertemanan tapi mungkin dia ingin berada di tempat yang tak seorangpun melihatnya.

    Komentar oleh ikrarestart | Oktober 2, 2008 | Balas

  5. sikap skeptis dan juga kekesalan saya terhadap MUI pun bertambah terus mbak karena masalah ini semua mengapa alasan untuk tidak segera mengharamkan rokok adalah statement belum adanya laporan dari masyarakat padahal siapa yang berhak atas pengharaman masyarakatkah dan saya pikir saya telah kehilangan kepercayaan terhadap banyak orang.

    Wia menjawab :
    >> “Jelas sulit bung, karena perusahaan rokok tak mau rugi, dan pemerintah takut perusahaan rokok rugi karena takut kekeurangan penghasilan, pihak bursa saham takut perusahaan rokok rugi karena nanti pasar saham Indonesia bisa colaps.
    Agaknya profit lebih penting dari nyawa…
    Inilah sistem kita yang demokratis dan plural bung, serba negosiasi, meski kita yang sekarat kena dampaknya, tetap saja, kepentingan siapa yang lebih menang ketimbang kepentingan siapa…
    MUI juga banyak di tekan, maklum…

    Komentar oleh ikrarestart | Oktober 2, 2008 | Balas

  6. “what about now…what about today..” (by daughtry). Sistem, manakemen dan pelaksanaan sistem serta manajemen itu sendiri. Antitesa memang sudah terjadi. Tapi entah kenapa liberalisasi yang dijadikan solusi. Dengan liberalisasi, rakyat dianggap meraih solusi padahal justru meraka akan kian terjebak dalam realita yang memang udah kian bobrok. Ketika kita hanya mampu bicara dan meluberkan kata-kata dari peluru pena pada bentangan kertas putih pernahkah menjamah kemiskinan itu sendiri ? Mungkin kita meronta saat tak ada pulsa, mungkin kita merasa sekarat tak ada duit buat ngenet. Tapi kita setidaknya menjamah jiwa terlara yang memang terpenjara dalam kemiskinan walaupun mereka adalah tanggung jawab negara. Agak percuma bila meraba kemiskinan hanya melalui kata-kata, namun kita sendiri tak pernah menyapa emosi mereka yang jelata. Pekakah mereka akan sang penyelamat akhir jaman ? Percayakah mereka akan sang Umar Abdul Aziz berikutnya ? Tak hanya dengan kata-kata. Pikir, sikap dan gerak. Tak hanya cukup dengan ‘power people’ namun kekuatan penuh yang mempercayai kebangkitan harus terjadi. Inilah REVOLUSI !

    Wia menjawab :
    >> “Mengais sampah ditengah terik matahari ukhti, entah sudah dikemanakankah rasa diri ini, Demi sesuap nasi, karena enggan minta2 dan enggan bermaksiat kepada Allah.
    Pahit ukhti…
    Getir….
    Sedang setiap hari dari televisi milik tetangga, saya melihat pejabat2 berleha2, remuk hati rasanya.
    Penguasa negeriku, budak korporasi dan negara asing..
    Sesungguhnya ini lebih parah dari zaman jahiliyah..
    Maka..
    Seusai tangis dipenghujung malam sesudah tahajud dan doa dipanjatkan..
    Besok hari perubahan harus kita rintis..
    Sebagaimana Rasulullah menghapuskan ke-jahiliayahan dimasanya…
    Dan ini adalah masa kita..
    Dengan mengikuti manhaj beliu..
    Perubahan itu pasti..
    Karena beliaupun berjanji..
    Maka pasti tertepati..

    Allahu Akbar………….

    Komentar oleh diarypuan | Oktober 2, 2008 | Balas

  7. Ass. Terimakasih atas kunjungannya ke blog kami. Oh ya Widy, bicara tentang keterbatasan dana dalam menyelesaikan pendidikan, saya teringat kisah hidup saya sendiri. Sejak kelas 5 SD saya telah berjuang mencari biaya sendiri untuk dapat bersekolah. Saya harus bangun ja, 4 pagi dan berangkat ke pasar berjualan pisang. Sakitnya, jika jualan saya belum habis maka saya tidak masuk sekolah. Hidup seperti itu saya lakoni sampai dengan menyelesaikan kuliah, walau kuliah saya harus tamat 5 tahun lebih lama dari teman2 sekelas saya SMA. Sebab selesai SMA saya harus cari kerja dan kumpulkan uang terlebih dahulu untuk biaya kuliah. Malangnya, belum selesai kuliah biaya telah habis dan saya harus kerja lagi dan setelah itu lanjutkan kuliah lagi.
    Tapi percayalah, liku2 hidup seperti itu akan membuat kita lebih kuat menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan serta lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan.
    Tentang kehidupan anak bangsa negeri ini, Andaikan sempat widya coba baca postingan saya di http://ksemar.wordpress.com/2008/05/03/derita-orang-miskin-dan-kegelisahan-arwah-pejuang-kemerdekaan/

    atau tentang kerasnya hidup di http://ksemar.wordpress.com/2008/07/29/jika-terpaksa-untuk-hidup-jadilah-perampok-dan-penipu/

    Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya dan Salam dari kami, Masyarakat Marginal Sumatera Utara

    Wia said :
    “Sungguh luar biasa perjuangan anak bangsa. Terutama perjuangan kaum marginal yg ‘tidak terpopulasikan’. Kita ada disatu sudut yg terabaikan namun dari sudut itu kita bisa melihat segalanya dengan jelas. Kita tidak hidup dalam kemunafikan dan menjadi budak harta seperti mereka yg menipu agar menjadi sejahtera dan berbohong agar dianggap ‘benar’. Kita tahu mereka, walau mereka pura2 tak tahu tentang kita..

    Salut untuk anda dan kawan2 di Sumatera Utara. InsyaAllah tiap sudut dipenjuru negeri ini sedang terjadi perjuangan untuk membuka tabir dan merobohkan sistem yg selama ini memarginalkan mereka. Kita manusia beradab, tak kan rela ditipu dan dijajah selamanya..
    Hanya kepada Allah kita tunduk dan patuh..”

    Komentar oleh ksemar | November 6, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: