Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

Islam, Demokrasi dan Sekularisme Politik ???

Problematika Demokrasi

Demokrasi mempunyai dua wajah yang berbeda; wajah ideal-ideologis dan real-pragmatis. Sebagai produk sekulerisme, sistem demokrasi lahir hasil pergelutan di antara rasionalitas dan kuasa gereja. Bentuk pemerintahan sekuler, liberal dan pluralis adalah satu-satunya solusi agar tidak terjadi pemerintahan despotik dan otoritarian. Wajah manis demokrasi terlihat ketika menyuarakan “government of the people, by the people, for the people”. Yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia seperti terjaminnya kebebasan, persamaan dan keadilan bagi seluruh masyarakatnya. Wajah manis inilah yang berhasil merayu sebagian intelektual Muslim untuk mengadopsi sepenuhnya demokrasi Barat.

Demokrasi mempunyai banyak kelemahan. Siapapun yang mengkaji demokrasi secara substantif dan kritis akan dapat melihat kelemahan dan kerancuan dalam sistem ini. Dalam sistem liberal demokrasi, terdapat kekaburan otoritas, pada teorinya rakyat berdaulat namun kedaulatan rakyat hanya terjadi beberapa tahun saja. Yang paling menonjol adalah terlalu banyaknya slogan yang jauh dari kenyataan. Kenyataannya kepentingan golongan elit lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat. Wakil rakyat tidak mewakili rakyat akan tetapi mewakili diri sendiri dan golongannya (partai). Politik uang dan penipuan (immoralitas) diterima sebagian dari sistem politik yang sekular.

Lutfi Assyaukanie dalam sebuah artikelnya berpendapat bahwa demokrasi yang baik hanya bisa berjalan jika mampu menerapkan prinsip-prinsip sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah demokrasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar. Maka ini mengindikasikan bahwa landasan ajaran demokrasi tidak terlepas dari nilai-nilai sekulerisme.

Sekulerisasi dan Depolitisasi Islam

Sekulerisasi di Barat, seperti diakui oleh banyak ahli, sebenernya bertolak dari ajaran Kristen sendiri. Dalam Gospel Matius XXII:21 tercatat ucapan Yesus: “Urusan Kaisar serahkan saja kepada Kaisar, dan urusan Tuhan serahkan kepada Tuhan.” Implikasinya, agama tidak perlu ikut campur dalam urusan politik. Dari sinilah kemudian muncul dikotomi, pemisahan antara kekuasaan Raja dan otoritas Gereja, antara negara dan agama. Doktrin ini dikembangkan oleh St.Augustin yang membedakan kota bumi (civitas terrena) dan kota Tuhan (civitas dei).

Faktor lain yang mendorong sekulerisasi di Barat ialah gerakan Reformasi Protestan sejak awal abad ke-16, sebuah reaksi terhadap maraknya korupsi di kalangan Gereja yang dikatakan telah memanipulasi dan mempolitisir agama untuk kepentingan pribadi.

Sekulerisme dalam pengunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. sekulerisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu

Dalam istilah politik, sekulerisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, mengantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas. Sekulerisme, seringkali di kaitkan dengan Era Pencerahan di Eropa, dan memainkanm peranan utama dalam perdaban barat. Prinsip utama Pemisahan gereja dan negara di Amerika Serikat, dan Laisisme di Perancis, didasarkan dari ajaran sekulerisme.

Depolitisasi merupakan sebagian proyek sekulerisasi. Sekularisasi menjadi satu keharusan di Barat pada zaman pencerahan karena Barat telah bosan dengan sistem teokrasi dan despotic yang dilakukan oleh golongan agama (rijal ad-din). Sekularisme dan liberalisme adalah solusi bagi masyarakat Barat untuk maju dan modern. Ia adalah formula untuk dapat mengeluarkan masyarakat daripada kegelapan dan keterbelakangan. Masyarakat Barat sebenarnya telah lama menderita selama kurang lebih seribu tahun di bawah pemerintahan gereja yang otoriter sehingga menjatuhkan banyak korban sampai 430.000 orang serta membakar hidup-hidup 32.000 orang dengan alasan melawan kehendak Tuhan. Galileo , Bruno dan Copernicus adalah diantara para ahli sains yang menjadi korban dikarenakan ide-idenya dianggap bertentangan dengan kehendak gereja yang diklaim berasal dari titah Tuhan.

Perselisihan Islam dengan sekulerisme bukanlah perselisihan antara dua peradaban (clash of civilization). Akan tetapi sebenarnya adalah pertentangan antara agama dan pemikiran manusia Barat modern. Sekulerisme muncul akibat kekecewaan manusia terhadap pemerintahan agama yang menyebabkan kemunduran dan kegelapan. Manusia Barat mengalam pengalaman pahit dengan agama inilah yang memberontak dan memprotes agama serta bertindak dengan melepaskan diri dari belenggu otoritas Tuhan.

Polemik Islam dan Demokrasi

Dalam merepson isu demokrasi para cendekiawan muslim terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama menolak demokrasi dengan alasan utamanya karena dalam sistem seperti ini kedaulatan rakyat mutlak diberikan kepada rakyat khususnya dalam membuat undang-undang. Ini bertentangan dengan sistem politik Islam yang menuntut kedaulatan diberikan kepada Allah (al-Hakimiyah Lillah) dengan menjadikan syariah sebagai sumber utama perundang-undangan. Termasuk dalam golongan ini adalah Maududi dan Sayyid Quthb, setelah menolak demokrasi Barat tidak pula menjadikan teokrasi sebetuk bentuk pemerintahan Islam.

Golongan kedua yang diwakili oleh Yusuf Al-Qaradawi, Rashid Al-Ghannoushi dan Fathi Osman, menerima demokrasi dengan beberapa catatan. Mereka meyakini bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip demokrasi telah ada dalam syariah Islam seperti kekuasaan mayoritas, kekuasaan undang-undang dan pemerintahan perwakilan.

Apapun kecendrungan para cendekiawan Muslim dalam menghadapi demokrasi, mereka semua berpegang teguh kepada prinsip kedaulatan Syariah. Bahwa dalam bentuk apapun yang paling penting dalam suatu Negara Islam adalah bahwa Syariah harus berdaulat. Kedaulatan Syariah pada prinsipnya tidak akan memberi ruang kepada pemerintahan yang otoriter dan diktator. Serta dapat menghapuskan kelaliman, diskriminasi dan korupi dengan tuntas.

Para cendekiawan Muslim bersepakat bahwa sistem politik Islam sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan sistem teokrasi. Dalam sejarah Barat pemerintahan teokrasi yang memberikan gereja kuasa mutlak adalah bentuk pemerintahan irrasional, anti sains dan anti kemajuan. Sedangkan pemerintahan Islam yang dicontohkan oleh para sahabat adalah pemerintahan yang rasional dan mendukung kemajuan dalam bidang apapun.

Alasan-alasan Pendukungan dan Penentangan Sekularisme

Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekulerisasi adalah hasil yang tak terelakan dari Pencerahan yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhayul.

Penentang sekularisme melihat pandangan diatas sebagai arogan, mereka membantah bahwa pemerintahan sekuler menciptakan lebih banyak masalah dari pada menyelesaikannya, dan bahwa pemerintahan dengan etos keagamaan adalah lebih baik. Penentang dari golongan Kristiani juga menunjukan bahwa negara Kristen dapat memberi lebih banyak kebebasan beragama daripada yang sekuler. Seperti contohnya, mereka menukil Norwegia, Islandia, Finlandia, dan Denmark, yang kesemuanya mempunyai hubungan konstitusional antara gereja dengan negara namun mereka juga dikenal lebih progresif dan liberal dibandingkan negara tanpa hubungan seperti itu. Seperti contohnya, Islandia adalah termasuk dari negara-negara pertama yang melegalkan aborsi, dan pemerintahan Finlandia menyediakan dana untuk pembangunan masjid.

Namun pendukung dari sekularisme juga menunjukan bahwa negara-negara Skandinavia terlepas dari hubungan pemerintahannya dengan agama, secara sosial adalah termasuk negara yang paling sekular di dunia, ditunjukan dengan rendahnya presentase mereka yang menjunjung kepercayaan beragama.

Komentator modern, mengkritik sekularisme dengan mengacaukannya sebagai sebuah ideologi anti-agama, ateis, atau bahkan satanos. Kata Sekularisme itu sendiri biasanya dimengerti secara peyorativ oleh kalangan konservatif. Walaupun tujuan utama dari negara sekuler adalah untuk mencapai kenetralan di dalam agama, beberapa membantah bahwa hal ini juga menekan agama.

Beberapa filosofi politik seperti Marxisme, biasanya mendukung bahwasanya pengaruh agama di dalam negara dan masyarakat adalahhal yang negatif. Di dalam negara yang mempunyai kpercayaan seperti itu (seperti negara Blok Komunis), institusi keagamaan menjadi subjek dibawah negara sekuler. Kebebasan untuk beribadah dihalang-halangi dan dibatas, dan ajaran dari gereja juga di awasi agar selalu sejakan dengan hukum sekuler atau bahkan filosofi umum yang resmi. Di dalan demokrasi barat, diakui bahwa kebijakan seperti ini melanggar kebebasan beragama.

Beberapa sekularis mengijinkan agar negara untuk mendorong majunya agama (seperti pembebasan dari pajak, atau menyediakan dana untuk pendidikan dan pendermaan) tapi bersikeras agar negara tidak menetapkan sebuah agama sebagai agama negara, mewajibkan ketaatan beragama atau melegislasikan akaid. Pada masalah pajak Liberalisme klasik menyatakan bahwa negara tidak dapat “membebaskan” institusi beragama dari pajak karena pada dasrnya negara tidak mempunyai kewenangan untuk memajak atau mengatu agama. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kewenangan keduniaan dan kewenangan beragama bekerja pada ranahnya sendiri- sendiri dan ketka mereka saling tumpang tindih seperti dalam isu nilai moral, kedua- duanya tidak boleh mengambil kewnengan namun hendaknya menawarkan sebuah kerangka yang dengannya masyarakat dapat bekerja tanpa menundukan agama di bawah negara atau sebaliknya.

Kesimpulan Minimal

Sekulerisasi politik tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena Islam mementingkan peran agama dalam soal pemerintahan dan kepemimpinan. Sekulerisasi akan membuang peranan ulama dalam sistem pemerintahan. Padahal, Rasulullah Saw sendiri sudah mencontohkan dirinya sebagai pemimpin negara, yang diikuti oleh para penggantinya, Khulafa ar-Rasyidin yang semuanya arif dalam masalah-masalah agama. Menceraikan Islam dari kiprah politik akan menghalangi peranan Islam supaya tersebar dalam masyarakat. Akibatnya agama hanya menjadi urusan pribadi, bukan publik.

September 26, 2008 - Posted by | Politik Islam |

15 Komentar »

  1. thanks atas pencerahan nya bu… salam
    mudik kemana yah??

    Wia menjawab :
    >> “Sama-sama.. Wah, kebetulan saya nggak mudik. Saya tidak punya kampung bung. Ya, ntar lah saya minjam kampung anda saja. Hehehe..😀 “

    Komentar oleh yakhanu | September 26, 2008 | Balas

  2. sering aja sih baca tulisan situ di b’post. o’ya..lupa memperkenalkan diri : namaku mia endriza yunita. syukurlah kalo pernah dengar nama ini. hehehe

    Wia menjawab :
    >> “Hehe.. Berarti saya perlu berterima kasih sama Banjarmasin Post😛
    Iya, saya kenal. Anda ketua Aliansi Penulis Pro Syariah kan? Wah, senang sekali saya bisa bertemu dengan anda..😀 “

    Komentar oleh diarypuan | September 27, 2008 | Balas

  3. “Sekulerisasi politik tidak sesuai dengan ajaran Islam”, itu nampaknya problem buat Muslim, dan bukan problem bagi kemanusiaan pada umumnya.

    Kita tidak bisa menerapkan suatu sistem hanya karena “keyakinan pribadi” bahwa sistem itu buatan Tuhan. Harus ada alasan yang rasional….

    Wia menjawab :
    >> “Pertama-tama saya ucapkan terima kasih untuk komentar Bung Ishaputra. Namun maaf, kiranya ada satu hal yang belum anda pahami bahwa tulisan ini ditujukan untuk dakwah Islamiyah, sehingga pastilah presfektif yang diambil adalah presfektif sebagai muslim.
    Saya tidak tahu apakah anda muslim atau bukan. Tapi Islam merupakan rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta dan seisinya. Termasuk dalam hal kemanusiaan baik itu muslim maupun non muslim, Islam pun melindungi.. Mungkin sekularisasi politik menurut hemat anda sah2 saja. Namun sesuai apa yg anda kemukakan tadi, ini merupakan masalah bagi umat muslim. Akibat sekularisasi kemurnian akidah makin gampang diacak-acak, penafsiran nash yang menyimpang, bahkan pengingkaran tentang keotentikan kitab suci dan sunah. Akibat sesularisasi politik pemerintah tidak punya kuasa bahkan urung ataupun enggan melindungi akidah umat muslim yang juga merupakan rakyatnya..
    Islam mempunyai aturan yang jelas dalam Al-Qur’an dan Hadist. Dan dasar untuk menerapkan itu semua adalah ‘Iman’ bung, dan iman itu bukan cuma sekedar ‘yakin’. Jika anda muslim dan anda beriman, lantas anda katakan bahwa ‘Tuhan membuat sistem atau hukum’ itu tidak rasional, maka anda pun harus katakan bahwa seluruh kitab suci dibumi ini tidak rasional. Dalam beragama, anda beriman kepada Tuhan anda, bukan logika anda semata. Kalau semua dalam hal beragama harus rasional, maka kita harus melihat Tuhan dulu baru kita bilang Tuhan itu ada dan Rasional. Rasionalitas adanya Hukum/Sistem buatan Alah dapat anda telaah dalam Al’Qur-an dan Hadits, dan dapat kita rasakan manfaatnya jika diterapkan. Dan sebelumnya telah ada Negara yang menerapkan hukum Allah, maka eksistensinya telah terbukti. Islam tidak hanya mengatur unsur ruhiah, tapi mencakup keseluruhan hal dalam kehidupan manusia di dunia. Dalam hukum sekular dikenal GroundNorm yang bersifat abstrak, sedangkan GroundNorm Islam bersifat real yaitu Qur’an dan Hadist. Jadi yang diperlukan hanya menggali, buka mengadakan yang tidak ada. Menurut hemat saya ini justru lebih rasional dan pasti…
    Sesungguhnya Allah Subnana Wa Ta’ala berfiman :
    “Hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi mereka yang yakin”
    Walahu-alam Bi Ash Shawab..

    Komentar oleh ishaputra | September 30, 2008 | Balas

  4. Tulisan anda kebanyakan hanya soal sejarah yang secara umum sudah kita ketahui bersama. “Kesimpulan minimal” yang anda tulis di akhir tidaklah memberi informasi apa-apa kepada publik mengenai mengapa Islam harus dijadikan sebagai ideologi negara. Hanya klaim subjektif anda sebagai seorang Muslim.

    Kemudian, saya mengkritik “kritik” anda terhadap demokrasi. Anda terlihat tidak memahami antara “ideal demokrasi” dengan praktiknya di lapangan yang bisa saja menyimpang. Perlu dipahami, “penyimpangan ideologi” tidak hanya mungkin terjadi dalam konsep demokrasi saja. Dalam sejarah kekhilafahan Islam, kita dapat temui khalifah-khalifah yang berlaku despotik dan zhalim, yang tentu tidak fair jika karena itu kita mengkritik konsep Khilafah Islam. Persoalan-persoalan seperti “slogan yang jauh dari kenyataan”, “elit politik yang mementingkan dirinya sendiri”, adalah hal-hal yang sangat mungkin terjadi dalam basis ideologi apapun, termasuk ideologi Islam. Saya pikir harus dibedakan antara kritik terhadap suatu ideologi, dengan kritik terhadap “oknum-oknum” yang menjalankan ideologi tersebut. Kritik saya terhadap konsep Khilafah Islam adalah pada ide khilafahnya itu sendiri, bukan “tidak idealnya pelaksanaan” di lapangan.

    Sekulerisme dalam pemahaman saya, adalah pemisahan antara “urusan akhirat” dengan “urusan dunia”. Pahami, bahwa di sini saya tidak mengatakan “urusan agama”, tetapi “urusan akhirat”. Karena saya sadar bahwa agama tak hanya mengurusi akhirat, tapi juga mengurusi dunia. Dengan demikian, pada dasarnya saya tidak menolak ide bahwa aturan agama boleh menginspirasi aturan negara. Namun, “aturan agama” yang menjadi aturan negara tersebut adalah aturan agama yang bersangkut-paut dengan peradaban manusia yang plural, dan haruslah dilaksanakan dengan motivasi sekuler-pragmatis dan bukan motivasi teologis. Artinya, tetap ada batas di mana “aturan agama” tidak bisa menjadi hukum negara, yaitu pada aturan-aturan agama yang bersifat eksklusif dan semata bernilai dogma. Di sinilah hakikat sekulerisme, pada pemisahan antara “urusan akhirat” (atau urusan yang bersifat transendental), dengan urusan duniawi yang praktis dan kongkret.

    Pemisahan antara “urusan akhirat” dengan “urusan dunia” adalah sesuatu yang rasional dan realistis. Mengapa? Karena dalam urusan dunia, manusia -yang secara niscaya adalah plural- saling berhubungan dengan yang lainnya. Untuk itu, maka peradaban manusia yang plural ini membutuhkan suatu norma untuk disepakati bersama. Norma tersebut haruslah bersifat universal dan mengakomodir pluralitas manusia. Dan yang pertama-tama muncul adalah norma kesetaraan derajat manusia. Norma ini bersifat universal dan merupakan fundamen dari demokrasi. Dalam tulisan saya yang lain, saya memandang Khilafah sebagai “tidak pantas diaplikasikan di era modern” karena fundamen konsep tersebut memberi pemisahan antara “muslim dan kafir”, yang walaupun non-Muslim diberi kebebasan melaksanakan hak-hak sipilnya seperti kebebasan beragama, namun pada esensinya mereka adalah kelas dua secara politik. Ini jelas tidak fair. Kesetaraan derajat manusia di segala bidang adalah prinsip dasar yang harus ada pada ideologi modern yang akan diaplikasikan dalam suatu peradaban yang plural. Dan pemisahan warga negara berdasarkan agama/keimanan, apalagi ras, adalah sikap yang primitif dan sempit.

    Dari kesetaraan derajat itulah, maka tidak fair jika sekelompok masyarakat menaruh unsur-unsur teologinya, yang mana ini bersifat subjektif, ketika berinteraksi dengan khayalak umum yang plural. Lagipula, keyakinan teologis adalah keyakinan yang bersifat transendental dan “tak terukur”. Tentu akan sulit memberi penghakiman kepada masyarakat berdasarkan sesuatu yang tak terukur. ****

    Wia menjawab :
    >> “Manusia pun perlu belajar dari sejarah. Perlu anda ketahui, tulisan diatas yang anda komentari ini membicarakan tentang kesalahan sekularisme. Tentang Islam sebagai ideologi negara, akan saya bahas dalam pembahasan khusus, tentunya saya juga harus meluangkan waktu disela-sela kesibukan saya untuk menulisnya. Harap maklum, saya cuma punya waktu luang 4 jam dlm sehari yang harus dibagi untuk tidur dan lain2..
    Dilihat-lihat komentar anda ini mirip sekali dengan komentar beberapa kawan saya di UIN Syarif Hidayatullah, dan Paramadina, juga beberapa aktivis JIL. Mirip sekali gaya berfikirnya. Maaf, saya hanya sedikit bernostalgia…
    Mengenai “ideal demokrasi” justru lebih tidak masuk akal ketimbang praktiknya. Ideal demokrasi sesuai ide dasarnya yaitu pemerintahan yang diatur sendiri oleh rakyat, seluruh rakyat harus berkumpul disuatu tempat umum. Mereka kemudian membuat peraturan dan undang-undang yang akan mereka terapkan, mengatur berbagai urusan, serta memberikan keputusan terhadap masalah yang harus diselesaikan.
    Namun demikian, karena mustahil rakyat dikumpulkan disuatu tempat hingga masing-masing memerankan diri sebagai ‘lembaga’ legislatif, mereka kemudian memilih para wakilnya, sehingga para wakil inilah yang menduduki lembaga legislatif. Lembaga inilah yang disebut dengan ‘Dewan Perwakilan’. Dalam sistem Demokrasi, Dewan Perwakilan di-klaim sebagai representasi dari kehendak rakyat. Dewan ini kemudian memilih pemerintah dan kepala negara yang akan menjadi penguasa sekaligus wakil rakyat dalam pelaksanaan kehendak umum rakyat. Kepala negara mengambil kekuasaan dari rakyat yang telah memilihnya. Ia lantas memerintah rakyat dengan peraturan dan undang-undang yang dibuat ‘atas nama rakyat’.
    Atas nama rakyat——– Inilah yang jadi sumber malapeka
    karena atas nama itu hanya kata. Bukan rakyat kan yang membuat UU tsb? Misalpun rakyat tidak terima, apa yang bisa rakyat lakukan. Mengajukan Judicial Review? Sudah dicoba tapi selalu gagal. Saya dan kawan2 di WALHI dan segenap elemen masyarakat minta UU Sumber daya Air dicabut, kemudian UU PMA, dan UU Migas yang jelas2 beraroma neo-kapitalistik, tapi apa kenyataannya? UU tsb masih jalan sampai sekarang.
    Sedangkan dalam Islam, peraturan digali dari Qur’an dan Sunnah. Tidak perlu ada Legislative dan UU yang dibuat ‘atas nama rakyat’. “Sesungguhnya hukum itu hanyalah hak Allah” (QS Al-an’aam : 57). Maka recht findding atau pembuatan hukum oleh manusia, itu sudah melangkahi hak Allah. Itu juga kalau anda mengimaninya…
    Dalam sejarah Islam, seZhalim-Zhalim apapun (sesuai yang anda paparkan) namun tak pernah ada perempokan SDA negara secara besar-besaran seperti yang dialami bangsa ini sekarang. Dimana yang menikmati SDA kita justru bangsa Asing. Rasionalkah kita hanya dapat 1 % dari tambang2 emas kita di Papua. Sejelek-jeleknya pemerintahan Khilafah, baitul mal selalu jalan, dan kebutuhan pokok rakyat adalah prioritas utama. Masalah Zhalim yang anda lihat nampaknya hanya dari sisi peperangan dan chaos dalam beberapa hal dibidang kekuasaan dan kepemimpinan. Sungguh tidak adil sekali anda menilai… Kalaupun masalah ide yang anda permasalahkan, bagian ide yang mana yang salah menurut anda??? Seburuk-buruknya negara Khilafah, tidak pernah dalam sejarah rakyatnya rebutan zakat sampai tewas tertindih dan terinjak.. Suatu yang tersistem dengan baik akan membatasi perlakuan menyimpang dan tidak menjadikannya tumbuh subur. Beda dengan sistem buatan manusia yang bisa dirombak-rombak sekenanya.
    Anda perlu tau bung, dalam Al-Qur’an pun jelas dibedakan antara maslim dan kafir. Dan jelas betul pembedaannya. Kalau begitu anda pun ingin mengatakan Al-qur’an itu tidak fair?? Sesuai apa yang anda akui sendiri bahwa Islam juga mengatur urusan manusia di dunia. Begitupun Al-Qur’an mengatur tentang rule antara muslim dan non muslim.
    “Berjihad-lah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”(TQS At-Taubah : 73)
    Khilafah itu adalah perwujudan dari Hukum Syara’, dan hukum Syara’ adalah Hukum Allah. Jika anda tidak setuju, maka itu hak anda. Namun Khilafah adalah janji Rasulullah dalam hadits riwayat Ahmad.
    Sebagai muslim, siapa yang lebih patut dipercaya selalin Allah SWT dan Rasulnya.
    Jika anda anggap tidak adil jika non muslim mendapat porsi terbatas dalam politik, terutama sebagai pemimpin negara. Maka jika anda muslim anda tentu tau firman ini :
    “Hai orang-orang yang beriman, taat-lah kepada Allah dan taat kepada Rasul dan Ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan sebaik-baik keputusan.”(TQS An-Nisa : 59)
    Ulil Amri (sesuai tafsir Kurtubi dan Ibn-Katsir dan mufasir terkuat lainnya) ialah para ulama dan penguasa. Adapun firmannya : “Minkum” berfungsi membatasi ketaatan adalah kepada pemimpin yang merupakan muslim. Jadi jelas, tidak di-izinkan seseorang non muslim memimpin kaum mukmin…
    Jika anda bukan muslim, saya mohon maaf. Tapi ketentuan dalam Islam, memang begitulah adanya. Kebenaran itu terkadang memang pahit, tapi berbahagialah orang yang dapat menerimanya.
    Sesungguhnya Islam sangat menghargai hak umat manusia, namun dengan tidak menggadaikan akidahnya
    Wallahu-alam Bi As_Shawab..

    Komentar oleh ishaputra | Oktober 1, 2008 | Balas

  5. Kalau antara Sekulerisme dan Demokrasi itu sendiri, bagaimana menganalisanya? Konsep Demokrasi diperkenalkan orang2 Yunani jauh sebelum Revolusi Perancis yang menandakan munculnya Sekulerisme, kan?

    Tapi yang jelas, keduanya tidak sesuai dengan Islam..

    Wia menjawab :
    >> “Gampang saja. Demokrasi di Yunani pun tak ada sangkut pautnya dengan keyakinan mereka. Dan Demokrasi saat itu adalah demokrasi langsung, bukan perawakilan. Seluruh rakyat berkumpul disuatu tempat umum. Mereka kemudian membuat peraturan dan undang-undang yang akan mereka terapkan, mengatur berbagai urusan, serta memberikan keputusan terhadap masalah yang harus diselesaikan. Ini dapat dilakukan karena Demokrasi hanya di terapkan dalam wilayah yg hanya sebesar kota (polis).
    Itupun masih dicela Plato, karena sistem Demokrasi menurutnya hanya akan menimbulkan kekacauan. Menurut Plato, manusia cenderung berpihak pada kepentingan diri sendiri. Jika keinginan kebanyakan manusia dituruti, maka akan muncullah kekacauan. Mayoritas pendapat bukan berarti yang paling benar. Lagipula pendapat merupakan sesuatu yang produk akal yang mudah dikenai pengaruh dan bisa dikendalikan. Kekhawatiran plato tersebuk ternyata memang terbukti…”

    Dan, Terimakasih atas kunjungan perdananya..

    Komentar oleh زهير | Oktober 4, 2008 | Balas

  6. Sdr,

    Manusia memang perlu belajar dari sejarah. Namun bukan itu maksud kritik saya. Maksudnya, tulisan anda di atas hanya dipenuhi oleh paparan sejarah tanpa ada argumen/opini berarti dari anda pribadi (yang didasari dari sejarah yang anda tulis) mengapa Islam “lebih baik” daripada sekulerisme. Letak “belajar dari sejarah” itu adalah pada pemaparan opini pribadi berdasarkan sejarah tersebut. Kalau cuma paparan fakta sejarah tok, ya terus apa? Apa “hikmah” yang anda tawarkan? Apa bedanya artikel anda dengan ensiklopedi? “Kesimpulan minimal” yang anda tulis di akhir tidak mengandung argumen apa-apa mengapa ideologi Islam lebih baik dari ide sekulerisme.

    Tulisan anda tidak hanya bicara mengenai kesalahan sekulerisme, namun sudah melibatkan ideologi Islam di dalamnya dengan menyebut-nyebut Sayyid Qutb dkk. Namun sayangnya, anda tak mengelaborasi lebih jauh alasan mengapa ideologi Islam lebih baik dari sekulerisme.

    Kemudian, anda masih belum bisa membedakan antara “ideal demokrasi” dengan praktik-praktik menyimpang di lapangan. Pertama-tama harus anda pahami, bahwa demokrasi tidak dibangun di atas “kehendak mayoritas”, melainkan pengakuan atas prinsip kesetaraan derajat manusia. Wujud demokrasi salah satunya terletak pada musyawarah dan kebebasan berpendapat, bukan pada “pemungutan suara”.

    Dalam konteks politik nasional yang melibatkan ratusan juta warga dan wilayah negara yang luas, memang mustahil mengumpulkan seluruh warga dalam satu wilayah untuk bermusyawarah. Hal ini diatasi dengan memilih para wakil-wakil yang dipercaya untuk mewakili aspirasi mereka. Sampai di sini sebenarnya tidak ada masalah. Namun persoalannya, apakah kemudian para wakil itu amanah atau tidak? Ini sudah lain urusan! Soal ini sudah masuk wilayah praktik yang sangat mungkin saja tidak ideal. Itu kembali lagi kepada kualitas dan kejujuran individunya. Problem ketidakidealan semacam ini dapat mungkin terjadi pada “sistem Islam” sekali pun. Apakah dalam ranah ideologi Islam, sudah jaminan bahwa seorang pemimpin (Khalifah) akan amanah? Apakah sudah jaminan bahwa dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan, maka Khalifah tidak bisa korupsi? Toh sejarah kekhalifahan Islam di akhir-akhir malah lebih mirip monarki, di mana para penguasanya berlaku zhalim dan despotik. Bahkan di masa kekhalifahan Ottoman, umat Muslim tidak berdaya menghadapi kolonialisme. Ini kembali kepada kualitas individunya.

    Aneka kezhaliman yang anda contohkan yang terjadi pada baik sistem demokrasi maupun kekhalifahan, mulai dari “pengerukan” SDA, hingga rakyat yang mati terinjak-injak saat pembagian zakat, adalah persoalan oknum-oknum penjalan sistem tersebut. Sekali lagi, ini kembali kepada kualitas pribadi oknum-oknumnya. Harap dipahami dan dibedakan.

    Indonesia memang negara yang carut-marut lepas dari ideologi yang dianutnya. Ini disebabkan karena masyarakat kita tidak memiliki rasa idealisme dalam menjalankan peraturan/sistem. Saya ambil contoh sederhana, dispilin lalulintas yang buruk. Apakah salah sistemnya? Menyeberang sudah ada tempatnya, tapi masih sering dilanggar. Jalur Busway diserobot. Pedagang memanfaatkan trotoar yang semestinya digunakan untuk berjalan malah untuk berdagang. Bandingkan dengan di negara-negara maju di Eropa atau Amerika. Di mana soal disiplin dan kebersihan mereka lebih unggul, danmereka menganut sekulerisme. Jika Khilafah Islam ditegakkan, akankah ketidakdisiplinan semacam itu akan teratasi? Saya pikir tidak.

    Menurut hasil survey yang saya dengar di BBC sekian waktu lalu, Denmark adalah negara dengan pemerintahan TERBERSIH di dunia dan pelayanan publik terbaik di dunia. 4 lainnya yang berada di bawah Denmark, adalah negara-negara di wilayah Eropa (Amerika pun tak masuk 5 besar menurut BBC). Dan siapakah yang terburuk? Jawabannya adalah SOMALIA, negeri berpenduduk mayoritas Muslim (kita boleh “bangga” jadi orang Indonesia dalam hal ini).

    Lebih jauh, saya membaca tulisan Ulil Abshar di blognya, mengenai pengalaman ia bersosialisasi di Boston. Betapa di Boston lebih “manusiawi” daripada di Jakarta, begitu kira-kira kesan Ulil melihat disiplin masyarakat di sana. Salah satu contoh, fasilitas publik untuk kaum difable (cacat) disediakan dan dijaga. Tidak ada orang yang berani duduk di tempat khusus orang cacat dalam bus kota. Bandingkan dengan larangan merokok di tempat umum oleh gubernur Jakarta, yang hingga kini hilang gaungnya dan tak ada pengaruhnya sama-sekali di masyarakat.

    Denmark adalah negara yang berorientasi sekuler dan demokratis. Penduduknya mayoritas non-Muslim pula. Apa yang salah?

    Saya tidak akan membicarakan dan mengunggulkan ideologi demokrasi sekuler yang dianut Denmark, melainkan kualitas pribadi orang-orangnya. Pikirkan, dengan sistem “kafir”, mereka bisa menjalankan pemerintahan dan mengelola negara dengan baik. Mengapa hal yang sama tak bisa dilakukan oleh kita, orang Indonesia? Dengan sistem yang taruhlah sama-sama “kafir” ini, negara kita JAUUH lebih buruk daripada Denmark. Bahkan Jepang, yang tak seberapa kekayaan alamnya, yang juga sama-sama “bersistem kafir”, jauuh lebih maju daripada kita. Mengapakah ini bisa terjadi? Tak lain adalah soal kualitas individunya. Jadi, janganlah anda menyalahkan demokrasi dan sekulerisme atas puluhan orang yang mati terinjak-injak karena zakat, atau pengerukan SDA oleh asing. Semua itu tak ada relevansinya dengan sekulerisme atau “non-sekulerisme” melainkan mutlak individunya.

    Jika pun sistem Islam diberlakukan sekarang juga di Indonesia, dengan kualitas individu yang sedemikian, apakah sistem Islam akan dapat berjalan dengan ideal?

    Andaipun sistem Islam adalah sistem yang unggul secara ideal, maka lebih bijak jika muslim Indonesia memaksimalkan dulu kualitas individu mereka. Dengan “sistem kafir” yang ada sekarang, paling tidak tunjukkan bahwa kita bisa menyamai kemakmuran Singapura, atau sukur-sukur negara-negara Eropa. Tunjukkan disiplin lalulintas yang baik (btw, saya orang yang disiplin lalu lintas! Ini soal sepele yang seringkali diabaikan), jadilah pejabat yang amanah, ideal, dan disiplin. Itu saja dulu!!

    Mengenai pembedaan antara Muslim dengan non-Muslim, silakan Al Quran mengatakan itu. Namun, dalil teologis tidaklah etis digunakan untuk perkara yang menyangkut masyarakat yang plural. Sejuta dalil Al Quran yang membedakan antara Muslim dengan non-Muslim anda lontarkan, itu bukanlah ARGUMEN mengapa itu harus dilakukan dalam konteks politik. Dalil teologis hanya berlaku bagi mereka yang meyakini “keilahian” teks-teks tersebut. Lha bagi mereka yang tidak meyakini? Ya tidak ada relevansinya. Mereka akan ngomong “lha kenapa saya harus tunduk kepada aturan Tuhan sampeyan..?” Kalau anda pakai dalil teologis agama anda untuk memperlakukan umat agama lain, maka bolehkah umat agama lain melakukan hal yang sama kepada anda berbasis teologinya?

    Kalau ada agama lain memperlakukan anda berdasarkan teologi agama mereka, relakah anda? Ini contoh saja. Misalnya saya penganut agama X. Dalam teologi saya, darah “umat non-X” adalah halal. Lha salahkah kalau saya bunuh anda? Secara teologis saya tidak salah, karena “begitulah adanya agama saya”. Tapi, dalil teologi saya tentu tidak relevan dengan anda yang tidak meyakininya. Dan anda tentu tidak akan terima. Begitu pun orang agama lain, tidak akan terima “dinomorduakan” secara politik HANYA KARENA DALIL TEOLOGIS sebuah agama yang tidak mereka yakini!!!! Ini mohon dipahami oleh anda agar tidak terbakar oleh egoisme agama semata. Karena kalau Muslim bisa egois soal agama, non mulim pun bisa!!! Lha terus apa jadinya??????

    Kepercayaan itu bersifat subjektif dan relatif. Di Hindu, sapi dianggap “kendaraan dewa”. Lha karena itu, maka sapi tidak boleh disakiti, apalagi disembelih. Sementara umat Muslim, tiap tahun mengurbankan sapi. Lha bagaimana ini? Salahkah jika umat Hindu protes kepada Muslim dengan tuduhan “religious blemish”?

    Makanya saya mengatakan, bahwa problematika sekulerisme kebanyakan hanya problem bagi umat Muslim, dan bukan problem bagi kemanusiaan. Dan bagi umat Muslim, solusinya adalah leburkan Islam ke dalam modernisme peradaban yang pluralistis, hidup berdampingan dengan egaliter bersama umat lain. Bersedia dipimpin oleh pemimpin yang ADIL, JUJUR, dan AMANAH, terlepas dari pemimpin itu agamanya apa, muslim atau bukan, dan sebagainya. Emangnya orang Kristen gak bisa adil, jujur dan amanah? Kalau konsep Islam nggak bisa begitu, ya tinggalkan saja Islam, dan pilih agama lain. Jadi tidak bisa memaksakan kehendak berdasarkan egoisme keagamaan pribadi untuk urusan-urusan yang menyangkut orang banyak seperti politik.

    Komentar oleh ishaputra | Oktober 6, 2008 | Balas

  7. Saya ingin coba menanggapi apa-apa yang disampaikan oleh saudara ishaputra.

    Konsepsi ibadah (shalat, puasa, zakat), syariah (ekonomi, sosial, hukum, dll) juga konsepsi daulah (negara, khilafah) yang dipahami, dilaksanakan, dan diperjuangkan oleh umat islam tidak lain adalah buah yang terintegrasi dari konsepsi aqidah yang dipahami oleh umat islam.

    Ketika seorang manusia mulai berpikir akan kelemahan dirinya, keteraturan yang luar biasa dari dunia, dan eksistensi mahluk2 yang serba lemah ini, maka dirinya akan memikirkan akan adanya Tuhan yang Maha Esa. Ketika kesadaran tertinggi tersebut mulai mendorongnya mencari kebenaran, maka Allah memberi petunjuknya melalui para nabi-nabinya untuk memberikan penerangan pada manusia, dan bermuaralah konklusi pemikiran tersebut kepada Al-qur’an yang dirisalahkan oleh Rasul Muhammad SAW.

    Dengan potensi akal yang dimilikinya, seorang manusia yang jujur tidak dapat menolak kebenaran yang tertulis di Al-qur’an. Sanggahan apa yang dapat diberikan ketika Sang pencipta sendiri menantang mahluknya:

    Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Hud:13)

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(QS.Al Baqarah : 23)

    Karena dengan keterbasan manusia itulah, Allah memberikan petunjuk dan aturannya agar dapat menyelamatkan manusia di kehidupan dunia dan setelah dunia. Dunia ini satu, Bulan ini satu, Matahari ini satu, dengan keteraturan yang satu. Maka secara rasional pastilah hanya ada satu sang pencipta.

    Suatu pemikiran pragmatis dan dangkal ketika anda mencoba meleburkan konsep2 tauhid yang saling kontradiktif dalam suatu kerangka yang anda sebut modernitas. Sampai saat ini pemahaman anda pasti dilandaskan pada asumsi semata akan suatu sistem yang ideal…karena sampai kapanpun tidak akan ada manusia yang dapat memastikan sistem ideal tanpa dilandaskan kerangka acuan yang pasti (100%) kebenarannya, semua hanya teori dan asumsi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

    Berbeda dengan itu, aturan2 ibadah, syariah, dan khilafah dalam islam, semuanya disandarkan pada konsepsi aqidah islam yang telah diyakini 100% kebenarannya. Ketika konsepsi akidahnya tersebut tidak terbantahkan lagi, maka aturan-aturan yang muncul dari akidah tersebut tidak juga dapat dibantah lagi.

    Sia-sia anda membahas konsepsi sistem yang ideal, jika anda tidak memiliki acuan yang dapat dipastikan kebenarannya. Karena jikalau hanya berdasarkan asumsi2 semata, niscaya berapa miliar manusia didunia ini tidak akan dapat menentukan mana sistem yang ideal…

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-baqarah:164)

    Isyhadu bi anna Muslim!!

    Komentar oleh ikhsan | Oktober 7, 2008 | Balas

  8. kemanusiaan, kesepakatan norma, adil, bahkan baik buruk.. apa sih artinya??

    dalam konteks politik, kemanusiaan lebih baik dari pada dalil teologis?? acuannya apa?? apakah karena orang lain tidak mempercayai dalil teologis tertentu maka dalil teologis tersebut menjadi tidak layak?? sejak kapan perkataan orang lain itu menjadi kebenaran??

    norma kesetaraan norma yang universal?? mengapa saya harus mengakuinya?? apakah benar saya sama dengan orang lain?? apa logisnya norma tersebut sehingga harus diakui?? siapa yang buat rancangan norma tersebut?? apakah sedikit orang yeng menganggap hal tersebut tidak logis?? tidak.. bahkan pemikiran Plato sendiri menempatkan kasta dalam konteks politik.. bukan dalil teologis pun bisa bertentangan dengan norma kesetaraan.. kesimpulan jelasnya, bahwa norma kesetaraan yang universal itu cuman omongan kaum liberal belaka..

    sistem Islam lebih baik tidak daripada sistem sekuler?? sekarang apa standar baiknya?? nilai apa yang harus dijadikan acuan untuk mengapresiasi sesuatu baik atau tidak?? mengapa harus dengan nilai anda?? mengapa nilai saya tidak boleh dijadikan acuan?? nilai universal?? emang ada?? apa logisnya nilai universal tersebut??

    orang Islam punya nilai, orang atheis punya nilai, orang kristen punya nilai, orang Budha punya nilai, orang Liberal juga punya nilai, bahkan orang eksistensialis punya nilai sendiri2.. itu pluralitas.. tapi kenapa yang dipakai harus nilainya orang liberal?? kenapa juga harus nilainya orang Islam, atau nilainya orang Kristen atau dsb.

    membunuh orang itu selamanya buruk berdasarkan nilainya orang liberal.. berdasarkan nilainya orang Islam, ada kondisi2 tertentu.. berdasarkan nilainya orang komunis?? nilainya orang suku dayak?? nilainya orang yunani jaman dulu??

    kenapa harus nilainya orang liberal??

    apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa orang atheis, orang liberal, orang Islam, orang kristen, orang eksistensialis, orang agnostik, bahkan orang sunda pedalaman, dari masalah yang paling dasar mereka membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan nilai mereka masing2..

    tidak ada yang namanya nilai universal.. hal tersebut hanyalah klaim orang liberal.. jadi nilai universal pun bukanlah nilai yang netral.. sama seperti penganut nilai2 yang lain.. mereka membangun pemahaman mereka mengenai dunia ini dengan nilai mereka sendiri..

    dari situlah dunia dimaknai oleh masing2 mereka.. tidak ada makna dunia yang universal.. tiap ideologi, kepercayaan, faham, memiliki makna dunia masing2..

    dan orang2 yang selain diri mereka sendiri, adalah termasuk dunia yang harus dimaknai oleh nilai mereka masing2..

    orang Islam menganggap dunia ini hanya sementara, kehidupan sebenarnya ada di akhirat, agar berhasil di kehidupan akhirat, maka mereka harus memperlakukan kehidupan dunia sesuai apa yang diperintahkan..
    jika ada yang menganggap ini adalah permasalahan agama Islam karena tidak memiliki pemahaman kehidupan yang sama dengannya, maka itu sama sekali tidak benar.. karena pandangan anda tentang kehidupan dunia bukanlah pandangan umat Islam, itu hanya pandangan anda yang berangkat dari nilai anda sendiri yang membangun pemahaman anda tentang dunia..

    bagi orang Islam jika mereka berhasil memperlakukan kehidupan dunia ini sesuai yang diperintahkan, maka mereka akan mendapatkan kehidupan di akhirat yang mereka harapkan.. mereka sama sekali tidak ada masalah dengan itu..

    Islam harus dijadikan ideologi negara adalah pendapat subjektif seorang muslim?? memang benar.. begitu juga Demokrasi dan sekulerisme harus jadi sistem negara adalah klaim subjektif orang liberal.. karena berangkat dari nilai masing2..

    nah itu masalah konsekuensi dari nilai yang dianut.. permasalahan yang paling penting adalah, sumber nilai mana yang memuat kebenaran??

    oleh karena itu jika orang Islam telah menggali bahwa sumber nilai mereka adalah yang pasti kebenarannya, maka sudah seharusnya mereka memaknai dunia, memperlakukan orang2 sesuai dengan nilai mereka sendiri..

    orang2 liberal jika mereka telah menggali bahwa sumber nilai mereka adalah yang pasti kebenarannya, maka sudah seharusnya mereka memaknai dunia, dan memperlakukan orang2 sesuai dengan nilai mereka sendiri..

    saling menilai dan mewujudkan nilai mereka masing2 adalah sebuah keniscayaan.. tidak ada yang salah dengan itu.. asalkan proses mencari sumber nilai yang memuat kebenarannya sudah tepat..

    balik lagi ke demokrasi.. demokrasi ideal-ideologis, dibangun berdasarkan pengakuan kesetaraan derajat manusia, wujudnya pada musyawarah dan kebebasan pendapat.. maka apakah hal tersebut menghilangkan masalah dari demokrasi ideal menjadi demokrasi real sekarang??

    apakah dengan musyawarah dan pengakuan kesetaraan derajat dapat menghilangkan masalah? apakah jika seperti itu tidak akan memunculkan pendapat mayoritas dan minoritas?? justru karena kebebasan berpendapat-dalam segala konteks, perbedaan dari yang hanya masalah cabang hingga saling bersebrangan dalam corenya akan selalu ada.. dengan kekuatan ada pada tiap2 orang.. maka mayoritaslah yang akan jadi pemenang.. dan seperti yang dikatan Kruschev “Bagaimana mungkin 51% orang menguasai 49% lainnya??” dengan keadaan seperti ini, maka nilai mayoritaslah yang akan jadi acuan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik mereka..

    Komentar oleh syauqi | Oktober 8, 2008 | Balas

  9. off the record: Sorry, yang di atas itu HAPUS SAJA. Salah copy paste… itu buat upload di my quran. Tanggapan yang sebenarnya ini:
    ————————-

    Sdr Ikhsan,

    Di awal, anda mengatakan akan menanggapi apa-apa yang saya sampaikan. Namun, saya lihat anda tak sedikitpun menanggapi substansi yang saya lontarkan, melainkan “meracau” sendiri dengan keyakinan teologis anda yang sebenarnya tanpa postingan saya pun, anda bisa memposting itu.

    Dari seluruh yang anda jabarkan, saya tak melihat ada yang “penting”, apalagi logis. Semuanya hanyalah klaim berbasis keyakinan teologis yang bersifat subjektif. Anda tak sedikitpun mengelaborasi di mana lebih baiknya konsep Khilafah dibandingkan demokrasi sekuler, KECUALI hanya menyatakan bahwa “khilafah baik, karena ini dari Tuhan”. Dalam kaidah argumentasi, hal semacam itu sudah termasuk fallacy, atau kekeliruan berlogika.

    Idealnya, anda lepas dulu ide “khilafah” dari konteks teologisnya, kemudian argumentasikan mengapa itu lebih baik dari demokrasi.

    Sekali lagi saya katakan, dalil teologis TIDAK ETIS dijadikan dasar argumen untuk suatu perkara yang menyangkut orang banyak, seperti politik. Sebab tak semua orang menganut suatu konsepsi teologi yang sama. Anda tak bisa memaksa publik yang plural untuk menyepakati kebenaran teologi anda.

    ——————

    Kemudian, yang satu ini agak di luar topik, mengenai Tuhan dan “kebenaran teologis”. Semua yang anda paparkan juga tak ada yang baru bagi saya, malah terhitung kuno. Anda tak mampu membedakan (atau memang tak dididik untuk memahami bahwa ada perbedaan), antara “kebenaran filosofis” mengenai eksistensi Tuhan, dengan “kebenaran teologis”. Banyak penalaran filsafat yang menguatkan eksistensi Tuhan (saya tidak bahas sisi filsafat yang kontra dalam hal ini), namun tak satupun yang menguatkan kebenaran teologi tertentu. Di sini ada perbedaan “posisi” Tuhan. Posisi filosofis mengenai Tuhan yang bersifat fundamental dan general, dan posisi teologis yang bersifat “khas” dan eksklusif. Filsafat menggunakan penalaran, sementara teologi menggunakan “iman”. Argumen filsafat yang mendukung eksistensi Tuhan, TIDAK MEMBUKTIKAN kebenaran teologi tertentu. Di sinilah fungsi “iman” dalam teologi.

    Lebih jelasnya:

    Ide tentang keharusan adanya “pengerak utama”, atau dalam bahasa Aristoteles disebut “causa prima”, adalah hasil penalaran filsafat. Manusia tak butuh “iman” untuk menerima ide itu, melainkan “pemahaman”. Namun ketika masuk dalam ranah “Tuhan yang menghukum orang jahat”, atau “Tuhan yang menebus dosa”, “Tuhan yang melarang makan babi dan memerintahkan sholat 5 waktu”, dan seterusnya, adalah ranah teologi. Teologi bersifat “khas”, dogmatis, dan oleh karena itu membutuhkan “iman”.

    Masing-masing konsep teologi bisa jadi saling bertentangan. Namun itu tidak masalah karena tiap konsepsi teologi memiliki “standar normatif” masing-masing.

    “Tuhan falsafati”, seperti “causa-prima”nya Aristoteles, bersifat dingin, bebas nilai, dan rasional. Juga tidak dogmatis, dan oleh karena itulah dapat bersifat debatable. Penalaran filsafat mengenai Tuhan tak ada urusannya dengan ide bahwa Tuhan akan menghukum barangsiapa yang “menolak ide akan eksistensinya” atau “menyelamatkan barangsiapa yang meyakini eksistensinya”. Jadi filsuf tak berbeban dalam menalar Tuhan, sehingga dapat menalar secara apa adanya tanpa tendensi pembenaran terhadap keimanannya. Kejujuran ini yang tak dimiliki oleh teologi.

    Nah, “iman” (atau harafiahnya “percaya”) adalah faktor subjektif. “Iman” hadir karena memang ada “yang tak bisa dijelaskan” dengan penalaran filsafat. Karena subjektifitas iman itulah, maka kurang etis melibatkan keyakinan pribadi untuk urusan yang menyangkut orang banyak.

    Mengenai Hud ayat 13, saya sudah pernah “ditantang” dengan pertanyaan serupa dan sudah saya jawab. Saya katakan, Al Quran adalah kitab yang baik dan ada banyak kitab yang senilai dengan Al Quran. Ambil contoh satu, Veda. “Veda”, dalam varian ejaan lain yang saya tahu disebut “Vid”, “Vidya”, dan di Indonesia populer dengan “Widya” atau “Weda”, artinya “pengetahuan”. Kitab tersebut termasuk kitab tua yang tebalnya konon aujubilah. Banyak bagiannya yang sudah hilang akibat musnah karena peperangan, meski begitu, “sisanya” masih tebal dan isinya tetap menarik. Dengan “Vid” atau pengetahuan, masyarakat di pesisir sungai Sindhu memiliki peradaban yang tinggi ribuan tahun sebelum Masehi, yang akhirnya dikenal dengan peradaban Hindu. Mohenjo Daro dan Harapa adalah contoh kota tua berusia kurang lebih 5000 tahun. Memiliki tata kota dan saluran irigasi yang baik sehingga para ilmuwan modern takjub dibuatnya.

    Hinduisme adalah “agama peradaban” dan paradigmanya berbeda dengan agama-agama samawi. Jadi anda tidak bisa memahami Hinduisme dengan pendekatan yang sama dengan agama Kristen atau Yahudi. Hinduisme bermula dari politheisme, dan berakhir dengan pantheisme. Pada “tingkat tinggi”, karakteristik teologinya nampak bersifat mistis-spiritual, bukan dogmatis. Hal ini dapat dilihat pada kitab Upanishad, kitab yang muncul di akhir zaman Veda, sesaat sebelum munculnya agama Buddha. Kitab tersebut sarat ide-ide pantheistik (wihdatul wujud). Meski begitu, penafsiran sedemikian rupa terhadap filsafatnya melahirkan diskriminasi seperti kasta-kasta. Hinduisme pada akhirnya “memicu” lahirnya agama Buddha yang kental dengan aroma agnostisisme dan pragmatisme. Buddhisme adalah agama yang serumpun dengan Hinduisme, dan memiliki garis besar ajaran yang sama, yaitu melepaskan diri dari beban samsara. Buddhisme lebih egaliter, karena menolak kasta-kasta. Dan keduanya adalah kekayaan peradaban yang diperhitungkan dalam khazanah pengetahuan dunia.

    Point di bawah ini sering disalahpahami:

    “Menyamai” dalam surat Hud, saya pahami membuat yang “senilai”, bukan “mirip”. Jadi, tak perlu mengikuti kaidah sastera Arab untuk dapat disebut “bagus”. Memahami maksud surat tersebut jangan lugu dan dangkal.

    Wia menjawab :
    >> “Masya’Allah.. Bagaimana bisa anda menggunakan logika orientalis seperti itu, padahal sungguh logika semacam itu sudah jelas batil…
    Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah SAW :
    “Pada akhir zaman akan muncul sekelompok orang yang berusia muda dan jelek budi pekertinya. Mereka berkata-kata dengan menggunakan Islam, padahal mereka telah keluar dari Islam seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokannya (tidak mengamalkan Al-Qur’an dan tak mendapatkan pahala dari bacaannya). Di mana pun kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

    Saya lihat dari seluruh komentar anda, sungguh tak bisa saya temukan Syaksyiyah Islamiah didalamnya. Semua hujjah yang anda kemukakan bahkan sudah keluar dari konteks iman.
    Bagaimana mungkin anda katakan “lepas dulu ide “khilafah” dari konteks teologisnya”. Adalah tidak mungkin melepas khilafah dari Islam. Apakah anda tidak juga paham, seorang muslim wajib menjalankan syariat Allah, seperti jihad dan menghapuskan riba dari muka bumi, bukan semata ibadah mahdah saja.. Dan tidak ada sistem manapun yang dapat mengakomodir syariah secara keseluruhan selain Khilafah. Intinya Syariah perlu diterapkan secara keseluruhan, oleh karena itulah Khilafah menjadi penting.

    Jika orang sosialis pun memperjuangkan hadirnya kembali negara super power mereka, kenapa Islam dilarang mengembalikan kejayaan mereka. Anda ini aneh, bicara tentang kemanusiaan, tapi melarang orang menjalankan seruan Tuhan-Nya antara lain seruan untuk menegakkan syariah. Apakah anda tidak sadar bahwa anda sedang bersikap tidak manuasiawi pula.

    Itulah kenapa saya tersenyum waktu membaca komentar anda. Anda ingin sebuah pluralitas dengan mengkebiri kewajiban umat muslim. Kawanan anda yang mengusung ide pluralis inklusif pun tak urung membuat ulama-ulama di banua banjar ini geleng2 kepala. Heran kami dengan anda-anda ini. Seperti ungkapan anda :
    “Menyamai” dalam surat Hud, saya pahami membuat yang “senilai”, bukan “mirip”. Jadi, tak perlu mengikuti kaidah sastera Arab untuk dapat disebut “bagus”. Memahami maksud surat tersebut jangan lugu dan dangkal.”
    Guru saya diPonpes dan sekumpul bilang :
    “Hati-hati dengan tipe orang seperti ini, mereka memelintir dalil dengan penafsiran bahasa seperti menafsirkan injil, hujjah mereka akan kontradiktif jika dibenturkan dengan dalil yang lain, berpeganglah terus pada Al-Qur’an dan Sunnah, Insya-Allah Allah SWT menguatkan kita dijalan Dakwah.”

    Jika anda muslim, saya doa’kan anda segera mendapat hidayah dan bertobat, dan jika anda non-muslim, sungguh bukan tempatnya anda memperdebatkan syariat kami yang jelas berbeda agamanya. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Jangan lagi memelintir dalil dengan metode filsafat seperti itu. Untuk mengnafsirkan sebuah dalil, anda harus mengacu pada dalil lain dan As-Sunnah, selain itu anda harus memiliki ilmu nahwu yang mempuni, jika tidak, lebih baik jangan coba-coba.
    Saya menyampaikan pesan dari ulama-ulama banjar, kami disini tidak menerima ide-ide liberal yang sungguh bertentangan dengan Islam. Maka pengaruh anda disini, bagi kami maupun masyarakat banjar, adalah sesuatu yang wajib kami perangi demi keselamatan akidah umat muslim.
    Dan dari saya sendiri, saya masih berharap suatu saat Allah membukakkan pintu hati anda yang tertutup itu.. Wallahu alam

    Komentar oleh ishaputra | Oktober 9, 2008 | Balas

  10. Sorry wia,comment si Ishaputra yg g jelas tuch baiknya g usah lo terima lagi. So,sebagai kontributor pengelola yg berhak atas moderasi komentar,gw ambil alih dulu. Lagian lo lagi sakit,g rela gw klo lo terganggu ma hal tetek bengek kaya gini.
    Lagian lo kan tau kita-kita nie mu’alaf,g semuanya pemahamannya sekuat lo. Secara link lo banyak.Tapi gw yg dah kenyang hermeneutika paham banget kesesatan tafsiran libaral kaya’ gitu.Dulu dimesir orang2 kaya gitu dah diusir,eh malah subur disini.
    Klo mo marah ntar-an dulu ya wia.Demi kemamaslahatan umat,gw hapus dulu komentar yg g sempet lo jawab.
    Cepet sembuh yach..

    Komentar oleh Joana Sirait | Oktober 13, 2008 | Balas

  11. Duh… berat yaa topik dan pembahasannya. Ilmu saya belum nyampe. Jadi saya diam aja dipojokan, manggut2, pura2 ngerti..🙂

    Komentar oleh agustusnugroho | Desember 5, 2008 | Balas

  12. perasaan ishaputra itu bukan muslim.
    Wajar sih ukht Wia kesulitan memetakan sikap isha, dianya ga gentle ngaku identitas: muslim atau kafir. Repotnya….!
    Mau menakar khilafah dalam tataran akidah ya dia mesti bawa argumentasi akidah/keimanan dia sendiri (kalau engga kelaut aja!). Sayangnya gak pernah ada liberalis kafir, orientalis ataupun yang lain berani menantang ranah yang satu itu (akidah), karena akidah islam benar-benar tidak terbantahkan…. Liyudzhirahu ‘ala ad-diini kullihi.

    Kalau menakar khilafah dalam tataran solusi ya konsisten juga membandingkan dengan sistem sekuler dengan bukti-bukti serta standar yang disepakati terlebih dahulu.

    Komentar oleh eon | Desember 5, 2008 | Balas

  13. Assalamu’alaikum

    Salam kenal buat adik…Widy…Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya…
    Setelah saya baca sedikit biografi anda,….waw menarik sekali …saya menemukan seorang adik kecil yang centil ..energik , keras kepala , dan Tegar menghadapi tantangan .

    Saya tidak tahu apa jurusan adik saat ini …jika adik juga terjun di dunia media ….saya kira adik bagaikan mutiara didunia tulis menulis ..cuman ..he hehe kurang digosok dikit …!jangan marah lo…

    Saya dulu juga lulusan Jurnalistik ….menilai artikel2 adik sangat berbobot ….tetapi coba diubah sedikit gaya penulisannya ….Anda pernah baca tulisan 2 DAhlan Iskan ( pemilik Jawa Pos itu lo…..( he he he bukan karena dia dulu dosen lepas saya lo saya ambil contoh beliau ) , dengan gaya centil dan keras adik coba dikombinasi dengan threat ringan dan menghibur tidak melulu teoritis ….supaya pembaca tidak malah pusing dan akhirnya malas membaca …..

    Saat mengulas hal2 berat …bukan berarti kita harus kehilangan kendali saat kita ketawa ketawa dengan joke2 ala gus dur ..misalnya ….

    he he he …baru kenal sudah kotbah ..and kayak dosen saja ….maaf yah dik….

    Tetapi betul , saya terkesan dengan tulisan2 adik.
    eh ….Di Banjarmasin ada Kota bernama ” Purwosari yah ” tempat lahir adik…

    Atau itu di Jawa ….atau ..

    Sudah dulu ….
    kapan2 disambung lagi
    jangan kapok …..kirim email balik yah..

    Sukses buat adik

    Wassalam
    edy
    surabaya

    Komentar oleh edy prayitno | Desember 24, 2008 | Balas

  14. ARTIKEL YANG HEBAT..

    saya org Muslim dari Malaysia bangga Indonesia mempunyai mahasiswa yang masih muda seperti anda tetapi berjiwa kental ( tidur hanya 4 jam sehari ).. pembacaan saya tulisan anda, anda bagi saya mempunyai pengetahuan yang amat meluas di kala usia anda

    Wia said :
    “Terimakasih kunjungannya.. Usia bukan halangan untuk berkarya.. Salam ukhuwah untuk kawan2 Malaysia ^_^”

    Komentar oleh nazmi | Oktober 5, 2009 | Balas

  15. 1

    Komentar oleh nazmi | Oktober 11, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: