Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

SKANDAL KONTRAK GAS TANGGUH

Tidak tanggung-tanggung kerugian Indonesia yang disebabkan oleh kontak LNG (bahan baku Elpiji) kilang gas Tangguh, Papua Barat, yang dibuat semasa pemerintahan Presiden Megawati. Akibat kontrak tersebut Negara dirugikan sekitar 350 Triliun Rupiah.

Kontak LNG Tangguh merupakan kontrak ekspor LNG ke Provinsi Fujian, China yang disahkan tahun 2002 dan masih berlangsung sampai sekarang. Yang menjadi masalah adalah harga jual LNG kita yang terlalu rendah.

Kontrak ekspor LNG Tangguh untuk China itu ditandatangani oleh Presiden Megawati pada tahun 2002 dengan mematok harga flat yang sangat murah, yaitu 3,3 dolar AS per juta british thermal unit (MMBU) selama 20 tahun. Nilai kontrak ini sangat jauh di bawah harga pasaran internasional LNG saat ini, yaitu sekitar 20 dolar AS per MMBU. Bahkan lebih rendah dari harga di ladang gas lain, seperti LNG Bontang yang di ekspor ke Jepang, Indonesia mendapat harga 20 dolar AS per MMBTU, dengan patokan harga minyak 110 dolar AS per barel.

Sungguh malang nasib kita. Sebagai rakyat kita terpaksa membeli LPG dengan harga tinggi, sementara negara lain menikmati bahan baku Elpiji (LNG) kita dengan harga murah meriah. LNG murah dari negeri kita lantas mereka olah menjadi Elpiji yang kemuadian kita beli dengan harga pasar. Sungguh merupakan kebijakan yang irasional. Kemanakah sebenarnya otak para pejabat pemerintah. Tanpa rasa berdosa mereka mengungkapkan kenaikan harus dilakukan agar tidak mengalami kerugian. Namun sesungguhnya kontrak gila yang mereka sepakati itulah yang menyebabkan kerugian.

Saat rakyat menjerit akibat harga Elpiji yang semakin melonjak, yang bisa dilakukan Pemerintah hanya saling lempar tanggung jawab. Mantan Presiden Megawati kali ini menjadi pihak yang paling disalahkan, namun bukankah Presiden Susilo Bambang Yodhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri ESDM Pornomo Yusgiantoro, juga termasuk dalam nama-nama menteri di jajaran kabinet Gotong Royong saat kontrak LNG Tangguh disahkan. Kontrak penjualan LNG kilang kepada China dengan harga jual yang sangat murah itu diputuskan secara kolektif, yaitu dalam rapat Kabinet Gotong Royong tahun 2002. Di dalam kabinet tersebut terdapat Jusuf Kalla sebagai Menko Kesra, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menko Polkam, dan Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri ESDM.

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, produksi gas dalam negeri lebih banyak dijual ke pasar internasional dengan harga rendah melalui mekanisme ekspor. Data yang dihimpun BPPT menyebutkan ekspor gas yang dikemas dalam bentuk LNG menyita hampir seluruh produksi gas dalam negeri.

Potret semacam ini tampak pada produksi gas PT Arun (Aceh) dan PT Badak (Bontang). Pada 2000 lalu produksi Arun mencapai 6.706.100 metrik ton, jumlah yang diekspor mencapai 6.747.000 metrik ton. Tak jauh berbeda dengan fenomena yang terjadi di ladang gas Badak, produksi ladang ini pada 2000 mencapai 20.614.900 metrik ton. Sebagian besar produksi dialokasikan untuk kepentingan ekspor, mencapai 20.243.100 metrik ton.

Kondisi ini terus berlangsung hingga saat ini. Setidaknya data 2002 menyebutkan ekspor mencapai 6.249.700 metrik ton dari total produksi ladang gas Arun yang mencapai 6.242.600 metrik ton. Demikian pula dengan ladang gas Badak. Produksi ladang gas ini turun tipis hingga kisaran 19.942.200 metrik ton, namun kapasitas ekspornya melampaui produksi mencapai 19.964.800 metrik ton.

Kontrak LNG Tangguh hanyalah satu dari sekian banyak kontrak merugikan yang disahkan di negeri ini. Hal ini tidak lepas dari pengaruh UU No.22 Tahun 2001 tentang Migas. Rendahnya harga jual gas Indonesia untuk kepentingan ekspor juga tidak terlepas dari kontribusi UU Migas yang tidak lagi mengoptimalkan perusahaan Migas nasional yang telah solid dalam penjualan migas seperti Pertamina. Transaksi ini justru diserahkan kepada perusahaan asing yang jelas-jelas memiliki kepentingan.

Penjualan gas ladang Tangguh ke China merupakan contoh nyata, dengan harga masksimal US$3,2 per MMBTU oleh British Petroleum (BP). BP mempunyai saham di perusahaan gas Australia yang menjadi pesaing utama penjualan gas ke negara Tirai Bambu itu. Selain itu, BP juga memiliki saham pada receiving terminal atau pelabuhan penerimaan di China. Tidak heran harga jual gas kita begitu rendah.

Walaupun Menteri ESDM menyatakan bahwa kita masih dapat melakukan negosiasi ulang, namun kerugian yang kita derita sudah terlalu besar. Lagipula negisoasi ulang hanyalah solusi jangka pendek yang tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus mulai merintis kemandirian dalam pengolahan sumber daya mentah. Bukankah akan lebih murah jika gas diproduksi didalam negeri. Jangan karena kita menganggap mengimpor Elpiji lebih praktis dari mengolahnya sendiri, lantas kita bertahan pada kemalasan yang berujung pada kerugian seperti yang kita derita sekarang. Sudah seharusnya pemerntah bisa belajar dari pengalaman. Jika dikatakan bahwa menengelola gas didalam negeri itu terlalu mahal, lalu apakah kerugian 350 Triliun itu bukan angka yang ’mahal’? Paradigma berpikir malas dan licik ala pemerintahan liberal saat ini harus kita buang jauh-jauh jika kita benar-benar menginginkan Indonesia yang lebih maju.

Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan negeri ini. Dan tampaknya, untuk menyelamatkan sesuatu yang menjadi prioritas, memang harus ada yang dikorbankan. Tinggal bagaimana pemerintah memilih mana sesuatu yang menjadi prioritas tersebut di samping manajemennya. Dan harus kita ingat, kekayaan yang di anugerahkan Allah SWT bagi Indonesia bukanlah komoditas ekonomi yang bebas dari pertanggung jawaban…

Agustus 28, 2008 - Posted by | Economy |

7 Komentar »

  1. Nah, ini dia. Thanks Wia..
    Benar-benar pemerintah nggak tau diri. Udah jelas salah masih ngeles. Bahas diforum lagi ya, ditunggu!😉

    Wia menjawab :
    >> “Sure…😉 “

    Komentar oleh Joana Sirait | Agustus 28, 2008 | Balas

  2. Nampaknya saudari masih student. Bilakah akan tamat belajar di Universiti. Semoga sukses. Tidur hanya 4 jam sehari? Jaga-jaga kesihatan.

    Wia menjawab :
    >> “Insya’allah satu tahun lagi pak.. Terimakasih atas saran dan motivasinya, juga atas kujungan bapak :D”

    Komentar oleh mansid | September 2, 2008 | Balas

  3. sdr. Wia, anda ini menyalahkan pemerintah yang mana, menyebut tidak tahu diri. Pemerintah SBY selalu menghargai pemerintahan sebelumnya, tetapi terus diserang dan dihujat. Sekarang baru ketahuan belangnya, era pemerintahan mana yang rusak dengan menjual LNG gas tangguh dengan harga 5% dibawah harga pasaran sehingga negara rugi 750 trulyun bukan 350 trilyun dan saat ini gas langka dan mahal dan ibu-ibu menjerit. Anda ini membela siapa, menghujat siapa. Coba baca-baca informasi yang benar dan seimbang misalnya harian kompas dan rakyat merdeka. Jangan suka menuduh pemerintah tidak tahu diri, menurut saya era pemerintahan SBY jauh banyak kemajuan seperti damainya aceh, penegakan hukum terhadap koruptor dan anggaran pendidikan 20%. Jaman dulu mana ada, dari presiden soekarno, soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati, Aceh terus berdarah-darah sepanjang masa. Jangankan Menteri dan Gubernur, Lurah saja banyak yang tidak tersentuh hukum dan anggaran pendidikan baru SBY yang mampu memenuhi amanat UUD 45. Anda mungkin membela megawati dengan partainya PDIP yang dikenal sebagai partai brutal dan urakan. Buktinya setelah rakyat kasihan sama mega dan PDIP meledak, mereka seperti aji mumpung menjarah hak-hak rakyat karena mereka menang kaget. Ada tukang ojek, tukang las, tukang becak jadi anggota DPRD. Sejarah membuktikan bahwa barang siapa memberikan pekerjaan kepada yang tidak punya sdm, hancur. Makanya mereka pada korupsi dan masuk penjara. SBY yang ingin menegakkan hukum secara konsisten masih dituduh tebang pilih. Bagi SBY, orang mau mencaci, menuduh, melecehkan nggak apa-apa. Nanti juga ketahunan mana loyang dan mana emas. Prinsip SBY kerja-kerja terusa memecahkan masalah yang multi dimensional peninggalan pemerintahan sebelumnya dengan gigih, cermat tidak grusa-grusu, rasional bukan emosional,tetapi selalu sabar dan santun dan kebetulan ganteng. Makanya mana pernah SBY membalas ejekan dan cacian dari lawan politiknya terutama dari Mega dan PDIP nya yang kalah total. SBY hanya senyum sambil terus bekerja, itulah ciri-ciri pemimpin yang berjiwa besar, sabar, cerdas dan santun, bukan peminpin yang tidak berpendidikan sehingga bicara dan sikapnya selalu emosional dan yang pasti mudah dibodohi pembantunya agar asset-asset negara dijual atau dijual sangat murah dengan tidak peduli rakyat yang menuai akibatnya, hidup sulit, menderita dan menjerit.

    Wia menjawab :
    >> “Terima kasih atas koreksinya bung Daryanto. Angka 350 Triliun itu saya dapat dari Republika. Syukurlah kalau kenyataannya memang 750 Triliun, sehingga anggapan saya tentang pemerintah sama sekali tidak meleset.. Dan maaf, saya tidak membela pihak manapun. Saya ini rakyat, dan saya membela kepentingan umat. Saya bersuara sebagai rakyat, tidak atas nama golongan.
    Bung Daryanto yg terhormat, saya rasa kepemimpinan siapapun dinegeri ini tidak ada yang pernah memenuhi amanat konstitusi. Saya justru menduga anda yang kurang memahami ini. Jika anda katakan kemajuan seperti damainya aceh, penegakan hukum terhadap koruptor dan anggaran pendidikan 20% itu adalah prestasi, apakah anda sudah memikirkan apa saja yg terjadi dibelakang itu semua? Bagaimana dengan kenaikan harga BBM, menambah beban hidup rakyat sambil menambah anggaran pendidikan, lucu sekali.. Cobalah anda jangan selalu membuat itung-itungan diatas kertas, kerena perhitungan di alam nyata beda adanya. Kemajuan-kemajuan yang anda paparkan itu belum menyentuh kami, para rakyat miskin. Maka jangan salahkan kalau kami protes. Di negeri ini yang paling banyak bicara adalah orang kaya, pejabat, dan orang terpelajar, jarang ada ‘kere’ yang bicara, sampai-sampai orang kaget kalau mendengar mereka bicara. Mereka anggap itu hanya protes tanpa dasar, padahal itu ungkapan rasa sakit dari hati mereka yang terdalam. Mungkin selama ini anda tidak merasa terzhalimi, tapi masih banyak yg merasakannya..
    Kembali ke masalah LNG, jika anda katakan bahwa dalam pengesahan kontrak LNG tangguh SBY-JK tidak dilibatkan, apakah berarti mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang kontrak ini, sangat tidak mungkin.. Paling tidak JK sebagai menko Kesra saat itu mestinya tau. Lagipula jika SBY memang ingin masalah ini selesai, kenapa beliau masih saja mempertahankan UU Migas yang juga produk bermasalah era megawati?? Sudah jelas merugikan, kenapa dipertahankan?????? Kemudian UU PMA yang mengokohkan liberalisasi di tanah air kita tercinta ini?? Kemana keberanian beliau??? Saya memahami betapa tangguhnya ekonom-ekonom liberal disisi beliau menebar pengaruh, namun bukankan sebagai pribadi seharusnya beliau pun punya pendirian sendiri. Lantas masalah resolusi PBB untuk Iran, mengapa beliau justru sepakat dengan AS menjatuhkan sanksi bagi saudara-saudara kita di Iran. Saya ingat bagaimana Iran membantu kita dalam konfrensi WHO, merekalah yg pertama satu-satunya yg bersuara untuk kita, Indonesia yg saat itu diwakili Ibu Siti Fadilah Supari. Jujur saja, saya sangat kecewa dengan keputusan beliau…
    Memikirkan sebuah persoalan haruslah ditarik sampai ke akarnya. Saya tidak menyalahkan SBY secara personal, saya bicara tentang pemerintah yang kebetulan sekarang dipimpin oleh pak SBY. Seperti lima tahun yang lalu saya bicara tentang pemerintah yang kebetulan dipimpin megawati. Saya bisa katakan pemimpin yang anda puji itu juga korban sistem. Sistem bobrok dan beliau sekarang dikawal ketat oleh para ekonom liberal sama seperti presiden-presiden kita sebelumnya. Sistem ekonomi dan politik negeri inilah yang membuat korupsi menjamur. Sistem pertahanan yg salah strategi. Sistem pendidikan yg lebih menyiapkan anak2 muda seperti kami untuk jadi ‘pekerja’, bukan jadi tuan dinegeri sendiri. Apalagi yang bisa kami harap jika aset negeri ini lebih banyak merupakan milik asing ketimbang milik negeri kami sendiri.
    Suatu hari JK berkata “Saya tidak peduli sepanjang Thamrin itu mau jadi milik asing semua, yg penting rakyat saya dapat pekerjaan”…
    Ya Allahu ya Robbi…. Demi engkau dan zat-Mu yg Maha mulia, sungguh hamba menangis mendengarnya…

    Bung Daryanto yg terhormat, Seseorang boleh saja mulia, tapi tak ada yg lebih mulia dari Allah Ta’ala. Satu kebaikan tidak akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang lain, meskipun Allah maha pemaaf, bukan berarti kesalahan tidak dihisab. Berhati-hatilah dalam memuji orang. Jangan sampai tergelincir sehingga kita mengkultuskan apa yg kita puji dan melupakan ketidakberesan disekitar kita.

    Salam damai saya dari sebuah gubuk kecil di satu bagian bumi Allah yg luas ini. Terimakasih kunjungan dan komentar anda….

    Komentar oleh h.daryanto | September 4, 2008 | Balas

  4. SEBAGAI MUSLIMAT TENTU FAHAM HADIST NABI BAHWA KITA PANTANG MEMBUKA AIB ORANG LAIN DAN SUUDZON PUN JUGA JANGAN, KECULAI DALAM PENEGAKAN HUKUM YANG MENJADI TUGAS LEMBAGA YUDIKATIF DAN KEPOLISIAN. BUKANKAN SBY SEBAGAI KEPALA NEGARA BELUM LAMA INI BERPESAN BAHWA GENERASI MUDA JANGANLAH CERDAS SECARA AKADEMIK, TETAPI JUGA HARUS DIIMBANGAI DENGAN AKHLAK DAN JIWA YANG BAIK, KARENA DI TANGAN GENERASI MUDALAH NEGARA INI AKAN BERADA DITANGANNYA. ITULAH FALSAFAH SBY YANG SELALU TERPATRI DALAM NAMANYA SUSILO = SANTUN, BAMBANG = PENDEKAR DAN YUDHOYONO = MENANG DALAM PEPERANGAN. ARTINYA DIA SELALU INGIN MEMENANGKAN PERSAINGAN SECARA SANTUN DAN KSATRIA TANPA BERMAKSUD MENYAKITI PIHAK YANG DIKALAHKAN, MESKIPUN DIA SELALU DISAKITI. DALAM KERENDAHAN HATI ADA KELUHURAN BUDI, DALAM KEMISKINAN ADA KEKAYAAN JIWA, DALAM SENYUM ADA KEIKHLASAN, DALAM KERIDHOAN ADA SEHAT, DALAM HIJAB ADA KEHORMATAN, DALAM SHOLAT ADA KEDAMAIAN DAN DALAM PUASA ADA PEMBERSIHAN DIRI. SELAMAT BERPUASA, SEMOGA SUKSES DI SEGALA BIDANG DAN NENG WIA DITAKDIRKAN MENJADI SALAH SATU PEMIMPIN DI NEGERI INI DALAM BINGKAI AKHLAKUL KHARIMAH, AMIIN YA RABBAL ‘ALAMIN, WASALAM H.DARYANTO.
    ‘ALAMIIIN, WASALAM.

    Wia menjawab :
    >> “Aib adalah keburukan seseorang secara personal, bukan aib institusi. Kebetulan yg saya maksud adalah pemerintah yg kebetulan sekarang dipimpin oleh Pak Susilo Bambang Yudhoyono.🙂
    Jika anda membaca tanggapan saya pada komentar anda yg sebelumnya, insya’allah anda akan mengerti..
    Terimakasih dan selamat berpuasa pula untuk anda. Bagi saya, cukuplah menjadi umu baiti dan seorang pengemban dakwah. Pendidik bagi putra putri saya, dan juga umat. Janganlah menyerahkan kepemimpinan atas suatu kaum kepada seorang wanita. Tentunya anda ingat firman tersebut…
    Terimakasih sekali lagi, semoga puasa kita mendapat ridha dari Allah SWT, amin….

    Komentar oleh h.daryanto | September 4, 2008 | Balas

  5. pak daryanto tim sukses pak sby YA ? oh ya mau tanya kebijakan reshuffle para menteri kan kalau menteri sering ganti sedangkan dapet uang pensiun kan ngehabisin uang APBN ya pak apakah kebijakan itu bijak sebenarnya banyak yang mau saya tenyakan SBY ITU BODOH APA KEJAM ? kalau gak kejam ya udah bodoh aja ya? masa janjinya mau maju tapi kata maju itu terlalu premature brainwash dan cenderung mengada-ada . maaf ya wia saya coment disini karena punya pak haji daryanto gak bisa kebuka alias eror disini sedangkan billing di warnet terus berjalan

    Komentar oleh ikrarestart | September 9, 2008 | Balas

  6. trim’s buat widya yg udah mau berani ngeluari semua unek2 rakyat. mungkin ni jg salah satu tanda2 kiamat sudah dekat, ga tau mana bedain binatang mana yg manusia.
    semoga allah membuka hati orang2 yg zholim. amiiiinn
    dukungan full buat widya moga dapat meraih cita2 yg diinginkan

    Wia menjawab :
    >> “Terimakasih rekan Aris.. Motivasi dan dukungan dari anda akan sangat berguna bagi saya sebagai penyemangat untuk terus berkarya.
    Sudah saatnya rakyat sadar akan kobobrokan sistem dinegerinya, sudah lewat masanya kita untuk diam dan meratap, mari bertindak, mari bersuara…
    Thanx atas doanya rekan Aris, semoga anda pun meraih apa yg anda cita2kan. Dan ingat…, jangan pernah lupakan umat😉 “

    Komentar oleh aris | September 9, 2008 | Balas

  7. thanks ,…wid,…kamu bagus-bagus tulisannya ,….dan asyik di baca nya sowry baru ini bisa bapa koment krena sibuk biasa menjelang ujian dan tugas msh ada yang belum slesai,…sbenarnya hukum dalam tatanan positf secara ilmiah memang telaah nya itu konsepnya normatif tp inilah yang harus seimbang kita harus melihat hukum ke dalam sistem dalam ranah prakttk itu hal esensial yang paling pentin untuk mengkritisi dan mengkaji persolan hukum..ingat Ius constitutum,constituendum dan ius operatum…btw sukses ya wia berkarya terus dan bp jd tlg suppot doa buat bp S2 nya bisa lancar,…yah semua harus terus berjalan khan dan waktu yang akan menanti dan kita hanya bisa berusaha untuk tetap tegar dalam hidup…Slam Hngat untuk FH Unlam dari jogja city

    Komentar oleh daddy fahmanadie | Desember 23, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: