Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

LPG NAIK, PEMERINTAH LEPAS TANGAN

Entah apalagi alasan pemerintah kita setelah kebijakannya mengkonversi minyak tanah dengan gas LPG. Setelah minyak tanah subsidi mulai ditarik dipasaran, sekarang giliran harga gas LPG yang dinaikkan. Lagi-lagi yang jadi korban adalah rakyat kecil yang semakin terhimpit oleh berbagai kebutuhan pokok untuk sekedar makan.

PT Pertamina (Persero) kembali menaikkan harga jual LPG kemasan 12 kilogram (kg). Mulai hari ini (25/8), harganya menjadi Rp 69 ribu per tabung atau naik 9,5 persen dari Rp 63 ribu. Kenaikan terakhir diberlakukan 1 Juli lalu, dari Rp 51 ribu menjadi Rp 63 ribu per tabung atau naik 23 persen. Dengan demikian, kurang dari dua bulan terakhir, LPG 12 kg telah naik Rp 18 ribu. Ke depan, untuk LPG 12 kg, Pertamina akan menaikkan secara bertahap sebesar Rp 500 per kg setiap bulan sampai mencapai harga keekonomian. Demikian juga kemasan 50 kg akan dikurangi diskonnya secara bertahap dan selanjutnya disesuaikan sampai dengan harga keekonomian.

Kenaikan LPG 12 kg dan 50 kg benar-benar tidak adil. Selain waktunya beruntun dan tanpa sosialisasi, kenaikan itu dilakukan saat tren harga minyak sedang turun. Mestinya, dengan struktur pasar LPG 12 kg yang masih dimonopoli alamiah oleh Pertamina, kewenangan penetapan harga masih tetap di tangan pemerintah. Pasar masih harus diatur sehingga harus ada tata niaga LPG 12 kg yang jelas. Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro malah berdalih bahwa pemerintah tidak mengatur harga LPG 12 kg dan 50 kg lantaran bahan bakar tersebut tidak mendapat subsidi. “Elpiji 12 kg tidak mendapat subsidi pemerintah, jadi diatur mereka (Pertamina) sendiri” , kilah beliau. Ironis sekali mendengar pemerintah dengan begitu rigannya berlepas tangan dari masalah yang mengancam kesejahteraan rakyatnya.

Bisnis perintah dalam hal ini konversi minyak tanah ke LPG yang dimotori Wapres Yusuf Kalla terbukti tidak menyelesaikan masalah yang menghimpit rakyat. Walaupun pemerintah berdalih bahwa kenaikan hanya akan dikenakan pada LPG 12 kg yang tidak masuk dalam daftar subsidi. Namun belum tentu konsumen LPG 12 kg adalah masyarakat yang tidak layak disubsidi. Bahkan karena harga LPG 12 kg naik, bukan tidak mungkin jika masyarakat yang kategori mampu  akan mengalihkan konsumsinya ke LPG  3 kg yang harganya lebih murah, yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi masyarakat kecil.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Achmad Faisal, mengatakan, ‘penyesuaian’ perlu dilakukan karena kenaikan Juli belum mengakomodasi kenaikan harga bahan baku elpiji di pasar intenasional. ”Selama ini, kita jual rugi. Akhirnya, kita dicerca dan direksinya dibilang nggak beres,” kilahnya (Republika 24/8/08).

Sejak reformasi kita selalu mendengar pernyataan-pernyataan pejabat negara yang begitu membosankan, yakni subsidi terlalu besar sehingga sangat membebani keuangan negara dan menyebabkan kemampuan pemerintah membiayai anggaran publik menjadi sangat terbatas. Di samping itu mereka juga mengatakan selama ini yang menikmati subsidi bukan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah tetapi orang-orang kaya. Kali ini pun Pertamina berucap bahwa Pertamina akan semakin merugi jika harga LPG tidak dinaikkan. Padahal kerugian itu sebenarnya dikarenakan pos defisit Pertamina akibat impor gas.

Selama ini, Pertamina membeli LPG impor melalui mekanisme tender dengan harga pasar, yakni sekitar 120 dolar AS per MT. Harga tersebut belum termasuk biaya pengangkutan sebesar 30-40 dolar AS per MT. Total biaya sampai pengisian sekitar Rp 11 ribu per kg.

Ketergantungan pemerintah akan impor LPG menjadi pentanyaan, sebab Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan gas alam yang melimpah. Namun cadangan gas yang banyak dimiliki Indonesia masih berupa LNG yang masih harus diolah agar menjadi LPG. Pertamina sebagai pemain tunggal dalam pengadaan gas belum mampu mengolah LNG menjadi LPG dalam jumlah yang dibutuhkan di Indonesia, dan memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengolah LNG menjadi LPG di luar negeri. Ironis sekali, negeri yang sudah tidak 63 tahun merdeka tidak sanggup mengelola SDA-nya yang melimpah. Hal lain yang menjadi masalah LPG di Indonesia adalah tingginya harga komoditi tersebut. Tingginya harga gas LPG dikarenakan mekanisme penyediaan gas LPG saat ini diserahkan kepada pasar. Mekanisme inilah yang seharusnya diubah oleh Pemerintah dan Pertamina.

Inilah salah satu dampak liberalisasi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah kita. Dengan politik ekonomi yang bertumpu pada liberalisasinya, sesungguhnya pemerintah telah memantapkan konsep laissez faire ala Adam Smith dalam urusan publik, sehingga mereka bisa dengan mudahnya angkat tangan dari masalah rakyatnya. Konsep ini mengharuskan urusan publik diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah. Setiap orang menurut Adam Smith harus diberikan kebebasan berproduksi dan berusaha, bila dibatasi berarti melanggar HAM.

Semoga Pemerintah sesegera mungkin kembali ke jalan yang benar. Tidak sepantasnya pemerintah dan para ekonomnya lebih memilih pandangan Adam Smith, seorang profesor yang benar-benar linglung, hidup tidak teratur dan berantakan (lihat buku Sejarah Pemikiran Ekonomi: Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern karangan Mark Skousen) dibandingkan dengan pandangan Rasulullah yang berakhlak mulia dan selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan umat.


Agustus 27, 2008 - Posted by | Economy |

9 Komentar »

  1. Nasib kita apes banget yah?? Udah tau juga kan masalah kontak LPG ama china itu.. Tolong bahas ya!! Denger2 kita rugi sampai 300-an Triliun. Ajritt…
    BTW bagus neh blognya wia. Slamat yach😉

    Wia menjawab :
    >> “That’s right, Jo… Lengkapnya baca aja di Republika. Amblas tuh 350 Triliun. Wah, request kamu pasti kesampaian. Ini juga aku lagi nulis tentang Skandal Kontrak Gas Tangguh. LNG (bahan baku LPG) kita dijual dengan harga pasar loak. Hih… Obral murah SDA ini judulnya. Tunggu aja, pasti kubahas!!!
    Iya makasih ucapannya. Ini hanya sedikit sumbangsihku untuk umat🙂 “

    Komentar oleh Joana Sirait | Agustus 28, 2008 | Balas

  2. Ssstt…..tau gak pemerintah sekarang sedang menggantung rakyatnya secara perlahan2, mungkin tidak lama lagi anti jga akan kena gantung tuh. makanya sebelum anti kena gantung, cepatin tegakkan syariah:)

    Wia menjawab :
    >> “Wakakaka… Iya, betul itu.. With liberalisasi. siap jagi rakyat = siap mati…!!?”

    Komentar oleh Al Fath An Nabhani | Agustus 28, 2008 | Balas

  3. ya jelas saja lepas tangan karena pemerintah alias presiden dan menterinya kan lagi ambil untung sebanyak-banyakna atas itu semua.
    kan mau buat beli baju lebaran anaknya

    selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir batin

    Komentar oleh ikrarestart | September 2, 2008 | Balas

  4. perhatian buat joana sirait, Al Fath An Nabhani dan Ikrarestart, anda ini menuduh pemerintah sekarang sekdang menggantung raktannya secara perlahan-lahan, apa nggak keliru. Penjualan gas tangguh hanya 5% dibawah harga pasaran dunia dan merugikan negara 750 trilyun atau 75 juta $ US itu waktu presidennya siapa, apa anda-anda ini masih SD sehingga nggak ngerti. Kelangkaan gas sekarang ini kan akibat kesalahan pemerintah sebelum SBY yang membuat rakyat menderita dan ibu-ibu rumah tangga menjerit. Tapi kan SBY dan JK cepat ambil sikap bahwa penjualan gas ke cina yang membuat negara mendekati bangkrut akibat kebodohan pemerintahan megawati, akan dinegosiasi. Karena waktu menjual gas sangat murah dulu kan SBY + JK tidak dilibatkan karena memang bukan bidangnya. Karena ini menyangkut mati hidupnya rakyat dan demi kelangsungan kehidupan negara, maka langkah SBY sangat tepat untuk re negosiasi. Anda-anda ini kurang informasi apa salah informasi sehingga menghujat pemerintahan sekarang atau anda-anda memang anah buahnya bude megawati yang punya kelebihan luar biasa yaitu berat badannya, tapi IQ nya jauh dibawah anak-anak SMA jaman sekarang. Habis bawaannya emosiiiii aja. Kalau ngomong ngelantur nggak jelas juntrungannya. Atau masih menganggap sebagai presiden, wah gawat kalau negara ini dipimpin orang yang begini. Udah ya semuaa, cobalah berpikir secara obyektif dan rasional, dengan analisis berdasarkan data dan fakta secara faktual dan ilmiah.

    Wia menjawab :
    >> “Bung Daryanto yang terhormat, ada baiknya kita juga menghargai pendapat orang lain. Koreksilah dengan cara pantas atas suatu kekeliruan. Toh, kita sama-sama manusia yg tak lepas dari salah dan lupa. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, kita saling mengingatkan dalam jalinan ukhuwah dan saling mentransfer ilmu dengan cara yg pantas. Somoga adik Joana, akhi Al Fath, bung ikra dan anda dapat membaca tanggapan saya di artilel Skandal Kontrak Gas Tangguh, dan silahkan renungkan baik-baik..
    Salam damai semua….”

    Komentar oleh h.daryanto | September 4, 2008 | Balas

  5. menanggapi soal bung daryanto memangnya anda iQnya tinggi ya??? memang iq saya menurun jadi 132 semenjak sma karena kurang gizi.. !!
    eh ya saya tidak menuduh hanya kenyataan sebuah kebodohan anggaran apbn yang defisit pelepasan blok cepu demokrasi makin diagungkan sementara saya hanya makan seadannya
    dan urusan dengan birokrasi makin runyam siapa yang mau tanggung jawab masa saya mau menyalahkan anda !!! btw anda mau gak disalahkan!! konyol.

    Komentar oleh ikrarestart | September 9, 2008 | Balas

  6. pak haji daryanto tolong baca artikel saya yang INDONESIA ku DAN PEMERINTAHAN NEGERIku mohon komentar

    Komentar oleh ikrarestart | September 11, 2008 | Balas

  7. KOREKSI SISTEM & PEMERINTAHAN SAAT INI ADALAH SEBUAH KENISCAYAAN, KARENA SISTEM SAAT INI BIKIN TAMBAH HANCUR AZA BANGSA INI, BAIK DARI EKONOMI, PENDIDIKAN, KEAMANAN, DAN BUDAYA (MENGENAI DATA TIDAK USAH DIURAIKAN DISINILAH, COZ DIHADAPAN KITA SUDAH SANGAT JELAS NAMPAK KERUSAKAN AKIBAT SISTEM SAAT INI). SO KITA BUKANNYA MENGHUJAT ATAU MENCACI MAKI PEMERINTAH TAPI KITA MENGKOREKSI KEBIJAKAN PEMERINTAH SAAT INI
    DAN JUGA MENYERU PEMERINTAH AGAR KEMBALI KEPADA SYARIAH SEBAGAI SATU2NYA SOLUSI ATAS PROBLEM YG DIHADAPI UMAT DAN BANGSA INI.

    JIKA ENGKAU MELIHAT KEMUNGKARAN MAKA CEGAHLAH DENGAN TANGAN (SO KAMI ‘NO KEKERASAN’), JIKA TIDAK MAMPU MAKA CEGAHLAH DENGAN LISAN/NASEHAT (NAH INILAH YG KAMI LAKUKAN SKRG), JIKA TIDAK MAMPU DGN LISAN MAKA PALING TIDAK HATI INI BENCI DENGAN KEMUNGKARAN TERSEBUT DAN INI ADALAH SELEMAH-LEMAH IMAN (KATA SELEMAH-LEMAH INI MRPAKAN YG TERKECIL DARI APAPUN TIDAK ADA YG LEBIH DARI ITU, ARTINYA JIKA KITA TIDAK MEMBENCI KEMUNGKARAN ITU BERARTI KITA TIDAK TERMASUK ORANG YG BERIMAN, SO KAMI ADALAH PARA PEJUANG YG MERINDUKAN TEGAKNYA SYARIAH, KEIMANAN KAMI YAKIN BAHWA HANYA SYARIAHLAH SATU2NYA SOLUSI DARI PROBLEM UMAT DAN BANGSA INI).

    KEPADA BPK H.DARYANTO, MARI BERSAMA-SAMA KITA BERJUANG UNTUK MENEGAKKAN SYARIAH, KARENA SATU2NYA JALAN SELAMAT BANGSA INI ADALAH KEMBALI PADA SYARIAH. JANGANLAH TERLALU MENGKULTASKAN SESEORANG SECARA BERLEBIHAN, COBALAH UNTUK BERPIKIR REALITIS MELIHAT PROBLEM UMAT DAN BANGSA INI DENGAN DENGAN MENYANDARKAN PEMIKIRAN KITA PADA AL QURAN DAN AS SUNAH, JANGAN PADA SOSOK SESEORANG.

    Komentar oleh Al Fath An Nabhani | September 13, 2008 | Balas

  8. Salam kenal kk Widy..

    kalo tentang gas saya kira sistem penyalurannya juga termasuk yang paling penting untuk dipermak ulang..

    kalo di Bandung harga gas 12 kg nyampe 95 ribu..

    padahal dari perusahaan gasnya cuman 65 ribu.. bisa seperti itu sebenernya gara2 calo gas yang sudah ter”mafia”kan.. Pengecernya ga bisa sembarangan ngambil dari perusahaan gas.. mesti bayar macem2 segala.. kalo ga ga akan dianterin gasnya..

    info dari saudara saya yg juga pengecer..

    Wai menjawab :
    >> “Itu sih belum apa2 bung, kalau kita kroscek, takaran gas yang dijual juga tdk pernah beres. Kurangnya bisa sampai hampir 1kg, bahkanan lebih. Paling rentan untuk ukuran 15 kg dan diatasnya. Yang 3 kg jg dikurangi, tapi tdk sampai 1 kg, biar tidak mencurigakan.. Segel bisa dipalsukan. Pokoknya susah cari yang takarannya pas.”
    Seharusnya jalur distribusi pun diperhatikan pemerintah dengan seksama, tapi sayang kenyataannya tdk demikian..
    Salam kenal juga bung, senang berkenalan dengan anda..🙂 “

    Komentar oleh syauqi | Oktober 4, 2008 | Balas

  9. yup betul sekali kk.. banyak perusahaan penyalur gas elpiji yang seperti itu.. makanya kalo diantara pengecer udah tahu mana perusahaan yang timbangannya bagus mana yang tidak..

    Komentar oleh syauqi | Oktober 8, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: