Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

MENAKAR KEADILAN DAN UANG

Menakar keadilan itu sama halnya dengan menakar pundi-pundi uang. Kata-kata ini tentu sangat tidak enak didengar, namun itulah yang terjadi pada tatar praktis dunia peradilan Indonesia saat ini. Berbagai kasus suap dan putusan kontroversial yang selama ini menghias headline media massa tak ayal membuat perut mual. Aroma busuk konspirasi yang diusung mafia-mafia peradilan menunjukkan betapa bobroknya peradilan di Indonesia. Hampir semua lapisan aparat penegak hukum bisa terlibat didalamnya, mulai dari polisi, jaksa, hakim, panitera, hingga advokat mulai dari tingkat daerah sampai tingkat Mahkamah Agung.

Masih segar dalam ingatan kita betapa kesialan mantan Dirut Jamsostek Ahmad Djunaedi telah membongkar kasus suap 600 juta rupiah terhadap hakim dan jaksa, keputusan kontroversial yang membebaskan Adelin Lies yang konon telah merugikan negara hampir 900 Miliar rupiah, kasus suap Jaksa Urip Tri Gunawan sebesar 6 Miliar rupiah, dan kasus suap antara Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman dan Artalita Suryani yang tentu masih terkait dengan kasus suap Jaksa Urip Tri Gunawan dan masih satu paket dalam kisruh BLBI. Deretan kasus tadi hanyalah secuil dari sekian banyak kebusukan-kebusukan lain yang sudah ataupun yang belum berhasil dibongkar. Konon para aktor utama masih aman, duduk berleha-leha diatas tumpukan uang haramnya.

Siapapun pasti suka uang. Paling tidak, tak satupun orang dimuka bumi ini yang tidak memerluakan uang, baik itu dalam bentuk mata uang ataupun barang yang memiliki nilai tukar yang tinggi. Jadi uang itu memang penting. Bahkan untuk Indonesia yang terlanjur memproklamirkan dirinya sebagai negara hukum, yang terpaksa menyaksikan hukum-nya menjadi alat mereka yang berkuasa atas uang. Padahal dalam undang-undang buku-buku teks hukum diterangkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang setara dimata hukum. Tapi rupanya kali ini mata hukum agak sedikit bermasalah dalam memandang pihak-pihak yang ada dihadapannya. Mungkin mata hukum pun sudah kelilipan uang.

Banyak yang mengatakan, masalah dalam dunia peradilan di Indonesia adalah kebobrokan moral aparat-aparat penegak hukumnya. Tapi cukupkah moral dapat membentengi para aparat penegak hukum dari kilauan uang yang membutakan mata dan hati. Merujuk pada ucapan khas bang napi, “Kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan”. Jika ada keuntungan dan kesempatan, apa lagi yang ditunggu. Bahkan yang awalnya tidak berniat pun bisa berubah niat karenanya. Jika moral manusia sanggup menangkis kesempatan-kesempatan tersebut, maka seharusnya kasus suap-menyuap akan semakin surut, tapi yang terjadi sekarang justru kebalikannya.

Judicial corruption bukan sesuatu yang bisa dituntaskan semata-mata dengan perbaikan moral. Diperlukan sistem dan aturan yang kuat untuk mengawal perjuangan tersebut. Kesuliatannya adalah jika sistem dan aturan itu lagi-lagi merupakan produk manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa. Sebagai contoh, untuk mengantisipasi dan dan melakukan pengawasan terhadap aparat hukum di Indonesia telah dibentuk berbagai macam komisi sebagai state auxilary bodies antara lain KPK dan Komisi Yudisial. Namun apakah dengan adanya mekanisme tersebut akan menghilangkan praktek mafia peradilan? Memang, adanya berbagai komisi yang diantaranya memiliki fungsi melakukan pengawasan terhadap aparat penegak hukum memang merupakan sebuah terobosan yang memiliki ’niat baik’, akan tetapi ’niat baik’ saja nampaknya tidak cukup. Sebagai contoh, saat belum lagi Komisi Yudisial berjalan efektif, sudah muncul masalah, yakni perseteruan Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung (MA), disusul perseturuan MA dengan Badan Pemeriksa Keungan (BPK). Disini nampak adanya kepentingan-kepentingan yang saling berbenturan.

Siapapun yang jujur menilai akan melihat dengan jelas, bahwa carut-marutnya dunia peradilan di Indonesia bukan sekadar disebabkan oleh faktor manusianya, baik itu hakim, jaksa, atau pengacara. Banyaknya hakim, jaksa, atau pengacara ‘busuk’ yang sebetulnya hanyalah akibat (bukan sebab) dari busuknya sistem peradilan kita. Buktinya, meski ada sejumlah hakim, jaksa, atau pengacara yang mungkin dipandang jujur dan bermoral, toh mereka sering terbentur dengan ‘tembok tebal’ sistem peradilan yang ada (yang memang bobrok) ketika mereka berniat menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Artinya, inti persoalannya bermula dari sistem peradilan sekular yang memang memiliki banyak kelemahan yang bersifat sistemik.

Contoh saja, adanya kekuasan pengadilan yang bertingkat-tingkat memungkinkan adanya peluang banding atau kasasi dalam satu kasus peradilan. Inilah yang kemudian menjadi faktor utama berlarut-larutnya suatu kasus di pengadilan, bukan hanya berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Di samping itu, keberadaan para pengacara dan para jaksa dengan berbagai tingkatannya, yang tidak jarang menjadikan hukum hanya sebagai alat untuk mencari kekayaan, adalah faktor lain yang menambah ruwetnya dunia peradilan kita saat ini.

Dalam sistem sekular seperti sekarang, hukum dihasilkan oleh mereka yang duduk di parlemen (yang kebanyakan lebih mementingkan diri dan partainya ketimbang rakyat kebanyakan), hukum akhirnya menjadi ‘barang dagangan’ yang memungkinkan terjadinya tawar-menawar. Itulah bukti nyata dari bobroknya hukum buatan manusia.

Kelemahan sistemik ini tentu bermula dari kelemahan fundamental, yakni sekularisme yang menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum. Padahal, akal manusia memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan dalam menentukan hakikat baik-buruknya sesuatu. Hitam dan putih pun menjadi abu-abu. Maka benarlah apa yang difirmankan Tuhan, hukum siapakah yang lebih baik dibandingkan dengan hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? [WIA]

Juli 28, 2008 - Posted by | Hukum |

1 Komentar »

  1. salam kenal.
    tulisan kamu bagus, kembangkan lagi bakat kamu.
    by :
    ahmad nafarin, temen km di FS
    link ke blog aku yah.
    di http://www.kawasah.co.cc
    liat juga blog aku yah..
    thanks

    Komentar oleh naff | Agustus 1, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: