Rektivoices..

Site Of Widiya Ayu Rekti…

KEBOBROKAN SISTEM HUKUM & PERADILAN INDONESIA

Potret Buram Sistem Hukum dan Peradilan Indonesia

Dimanapun, lembaga peradilan diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat mendapatkan keadilan dan menaruh harapan. Namun, realitanya jauh dari harapan. Justru, pengadilan dianggap sebagai tempat yang berperan penting menjauhkan masyarakat dari keadilan. Orang begitu sinis dan apatis terhadap lembaga peradilan. Harapan akan memperoleh kebenaran dan keadilan pun pupus ketika ditemukan adanya permainan sistematis yang diperankan oleh segerombolan orang yang bernama mafia peradilan. Pengadilan perkara korupsi mantan Dirut Jamsostek Ahmad Djunaedi yang mengamuk dan berteriak telah memberikan uang Rp 600 juta kepada jaksa yang sebagiannya, yakni Rp 250 juta digunakan untuk memesan hakim adalah bukti bahwa keberadaan mafia peradilan bukanlah isapan jempol. Disinyalir, menurut hampir semua lapisan aparat penegak hukum terlibat mulai dari polisi, jaksa, hakim, panitera, hingga advokat mulai dari tingkat daerah sampai di Mahkamah Agung.

Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan, korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina, Venezeula, Rusia, Kolombia, Mesir, Yordania, Turki, dan seterusnya. Bahkan, hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002, bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi, yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6.100 hakim dikategorikan bermasalah, yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption

Pada saat yang bersamaan kita juga melihat adegan yang melukai rasa keadilan. Koruptor kakap banyak yang dibebaskan berkeliaran, sementara pencuri kelas teri hampir tak pernah lolos dari hukuman. Dalam catatan ICW, selama kurun waktu 1999 hingga 2006, ada 142 pelaku korupsi yang dibebaskan oleh 133 hakim di berbagai daerah . Pengadilan terhadap Abu Bakar Ba’asyir yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan tetap dipaksakan berjalan, sebaliknya pengadilan terhadap Soeharto malah dihentikan.

Tidak hanya itu, saat ini mencari keadilan seperti mencari sebatang jarum yang hilang dalam tumpukan jerami, rumit, berbelit-belit, penuh tikungan dan jebakan, yang berujung kekecewaan dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Menumpuknya belasan ribu perkara di Mahkamah Agung , tidak hanya menunjukkan banyaknya permasalahan hukum dan kejahatan di negeri ini, akan tetapi juga karena panjang dan berbelitnya proses peradilan. Inilah diantaranya penyebab hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) yang dilakukan oleh masyarakat khususnya terhadap kejahatan jalanan (street crimes) adalah bukti ketidakhormatan dan ketidakpercayaan mereka terhadap hukum (disrespecting and distrusting the law).

Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini, nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them), 38% tidak ada persamaan dimuka hukum (there is no such thing as equality before the law), 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been) problem.

Penyebab Kebobrokan

Paling tidak ada 4 sebab kebobrokan sistem hukum dan peradilan di Indonesia, diantaranya:

  1. Landasan Hukum

Sistem hukum dan peradilan di Indonesia sangat dipengaruhi dan dilandasi oleh sistem hukum dan peradilan Barat yang sekular, yakni bersamaan dengan kemunculan sistem demokrasi pada abad gelap pertengahan’ (the dark middle age) yang memberikan kebebasan kepada rakyat untuk menetapkan hukum tanpa terikat oleh ajaran agama (Kristen). Sumber pokok Hukum Perdata di Indonesia (Burgerlijk Wetboek) berasal dari hukum perdata Perancis, yaitu Code Napoleon (1811-1838), yang karena pendudukan Perancis di Belanda berlaku di juga negeri Belanda (1838). Sementara di Indonesia, mulai berlaku sejak 1 Mei 1848 bersamaan dengan penjajahan Belanda. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP atau Wetboek van Strafrecht yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1918 setelah sebelumnya diberlakukan tahun 1873 juga merupakan copy dari KUHP untuk golongan Eropa (1867) dan KUHP untuk golongan Eropa juga merupakan copy dari Code Penal, yaitu Hukum Pidana di Perancis zaman Napoleon (1811). Begitu juga dengan hukum acara perdata dan pidana yang juga berasal dari Barat, walaupun dengan penyesuaian.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa sistem hukum dan peradilan di Indonesia merupakan produk Barat Sekular yang mengesampingkan Al-Khaliq sebagai pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Sehingga dapat dipastikan produk hukum yang dikeluarkan pasti tidak (akan) sempurna dan memiliki banyak kelemahan.

2. Materi dan Sanksi Hukum

Penyebab kebobrokan berikutnya adalah materi hukum sebagai konsekuensi dari sumber hukum yang sekular. Setidaknya tercermin dalam beberapa hal berikut:

a) Materi dan Sanksi Hukum Tidak Lengkap

Ketidaklengkapan mengatur semua hal, bukan hanya akan menimbulkan kekacauan, akan tetapi akan memicu tindak kejahatan yang lain dan memiliki dampak yang luas. Sebagai contoh, dalam KUHP Pasal 284, yang termasuk dalam kategori perzinahan (persetubuhan di luar nikah) yang dikenakan sanksi hanyalah pria dan atau wanita yang telah menikah, itupun jika ada pengaduan dari pihak yang merasa dirugikan. Jika yang berzinah salah satu atau keduanya belum menikah dan dilakukan atas dasar suka-sama suka, maka tidak dikenakan sanksi. Saat ini fenomena seks bebas di kalangan remaja (kumpul kebo), lalu hamil di luar nikah dan berujung pengguguran kandungan (aborsi), diduga kuat karena tidak adanya sanksi atas mereka.

Contoh lain, tidak adanya aturan tentang pergaulan laki-laki dan perempuan termasuk batasan aurat, sehingga berdampak pelecehan terhadap perempuan. Tidak adanya hukuman bagi peminum khamr yang menyebabkan rusaknya akal masyarakat dan memicu tindak kriminal, tidak ada sanksi bagi yang murtad, sehingga agama mudah dilecehkan, dan banyak lagi permasalahan masyarakat yang tidak diatur sehingga berpotensi rusaknya individu dan masyarakat.

b) Sanksi Hukum Tidak Menimbulkan Efek Jera

Salah satu tujuan diterapkannya sanksi bagi pelaku kejahatan, agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya lagi. Untuk itu, seharusnya pelaku dihukum dengan sanksi yang membuat jera. Sebagai contoh, pembunuhan yang disengaja (Pasal 338 KUHP) hanya dikenakan sanksi paling lama penjara 15 tahun, Pencurian (Pasal 362 KUHP) hanya dikenakan sanksi penjara paling lama 5 tahun. Hubungan badan (perzinahan) sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 284 KUHP, hanya dikenakan sanksi paling lama 9 bulan penjara.
Sanksi yang tidak menimbulkan efek jera sebagaimana contoh diatas alih-alih menekan angka kejahatan, yang terjadi malah jumlah penjahat dan residivis terus meningkat yang berakibat pemerintah kewalahan untuk membiayai makan para napi/tahanan. Bahkan negara harus hutang sebesar 144,6 milyar kepada rekana1n LP/rutan.
Hal tersebut tentunya juga diperkuat dengan sistem pemidanaan penjara yang justru memberi peluang terpidana mengulangi kejahatan yang pernah dilakukan. Di penjara, terpidana bukan hanya dapat bebas ’belajar’ trik melakukan kejahatan yang lebih besar, bahkan disinyalir saat ini penjara malah menjadi tempat yang nyaman melakukan pelecehan seksual, seperti kasus sodomi dan lesbi, kasus pemerasan, dan kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Kasus-kasus kejahatan itu tidak hanya terjadi di antara narapidana, tetapi juga bisa dengan pihak lain, seperti pegawai LP atau pengunjung.

c) Hukum Hanya Mementingkan Kepastian Hukum dan Mengabaikan
Keadilan.

Sistem hukum di Indonesia mengharuskan bahwa hukum harus menjamin kepastian hukum dan harus bersendikan keadilan. Kepastian hukum artinya produk dan ketentuan hukum haruslah memiliki landasan hukum, keadilan berarti setiap produk dan ketentuan hukum haruslah memenuhi rasa keadilan masyarakat, dan tidak merugikan. Realitanya hingga kini, para ahli hukum ’bingung’ untuk menentukan mana yang harus didahulukan, kepastian hukum atau keadilan? Banyak ketentuan yang dihasilkan di negeri ini yang memiliki kepastian hukum akan tetapi mengusik rasa keadilan bahkan merugikan. Hal tersebut sangat wajar terjadi, karena dalam sistem hukum sekular seluruh produk hukum dibuat oleh manusia. Alih-alih menghasilkan produk hukum yang memberikan keadilan, yang ada produk hukum hanyalah dijadikan alat memuaskan kepentingan para pembuatnya.
Sebagai contoh, Perda K-3 seringkali dijadikan alat aparat untuk menindas rakyat dengan cara menggusur rumah penduduk dan mengusir PKL tanpa memberikan solusi memuaskan. UU Migas (No. 22/2001) yang memberikan peluang kepada asing melakukan kegiatan usaha hulu dan hilir mengakibatkan kebijakan yang merugikan rakyat, yakni kebijakan kenaikan harga BBM hingga penghapusan subsidi. UU Sumber Daya Air (No. 7/2004) akan berdampak komersialisasi air yang pasti bebannya akan ditanggung rakyat dan sederet UU dan Peraturan lainnya.
d) Tidak Mengikuti Perkembangan Zaman

Sebagai konsekuensi dari ketidaksempurnaan pembuat hukum, yakni akal manusia, hukum yang diterapkan di Indonesia seringkali mengalami perubahan karena tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak ketentuan dalam KUHP yang sudah usang mengharuskan adanya UU baru yang ‘menyempurnakan’, seperti UU Korupsi, UU Pers, UU KDRT, dll. Undang-undang Korupsi yang sudah mengalami 3 kali perubahan dan UU Pencucian Uang yang berubah hanya dalam kurun waktu setahun (2002-2003) adalah bukti konkret, bahwa hukum buatan manusia memang sangat rentan mengalami perubahan karena harus menyesuaikan dengan kondisi.

Tidak hanya itu, perubahan atau pembuatan undang-undang baru selalu dibarengi dengan pengeluaran anggaran negara yang tidak sedikit. Sebagai contoh, menurut Agung Laksono anggaran pembahasan RUU Pemerintahan Aceh yang berasal dari pemerintah sebesar Rp 3 milyar dan dari DPR sebesar Rp 500 juta. Tidak cukup dengan itu, Depdagri pun mengucurkan uang sebesar Rp 250 juta yang diberikan masing-masing Rp 5 juta kepada 50 orang anggota pansus.

3. Sistem Peradilan

  1. Peradilan yang Berjenjang

Di Indonesia, struktur pengadilan berjenjang, yakni upaya hukum yang memungkinkan terdakwa yang tidak puas terhadap vonis hakim mengajukan banding. Dengan upaya hukum tersebut, keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya bisa dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi. Dengan mekanisme tersebut diharapkan menghasilkan kepastian hukum dan keadilan. Yang terjadi sebaliknya, yakni ketidakpastian hukum karena keputusan hukum dapat berubah-ubah sesuai jenjang pengadilan, juga akan berujung pada simpang siurnya keputusan hukum; kepastian hukum yang didambakan masyarakat pun semakin lama didapatkan, karena harus melalui rantai peradilan yang sangat panjang. Fenomena ini akan dengan cepat disergap oleh pelaku mafia peradilan—entah para jaksa, hakim, maupun pengacara—yang menjadikannya sebagai bisnis basah.

  1. Pembuktian yang Lemah dan Tidak Meyakinkan

Pembuktian haruslah bersifat pasti dan meyakinkan, agar keputusan yang dihasilkan pun pasti dan meyakinkan. Seharusnya persangkaan atau dugaan seperti dalam pembuktian kasus perdata serta keterangan ahli dalam dalam kasus pidana, dihapuskan, karena persangkaan hanya akan menghasilkan ketidakpastian dan keterangan ahli seharusnya diposisikan hanya sekedar informasi (khabar) saja.

  1. Tidak ada persamaan di depan hukum

Persamaan di depan hukum (equality before the law) tanpa memandang status dan kedudukan merupakan sebuah keharusan. Di Indonesia ada ketentuan, bahwa jika ada pejabat negara –setingkat bupati dan anggota DPRD—tersangkut perkara pidana harus mendapatkan izin dari Presiden. Aturan ini cenderung diskriminatif dan memakan waktu serta justru menunjukkan bahwa equality before the law hanyalah isapan jempol.

4. Perilaku Aparat

Penyebab kebobrokan yang cukup serius adalah bobroknya mental aparat penegak hukum, mulai dari polisi, panitera, jaksa hingga hakim. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2.440 hakim atau sekitar 40% dari total 6.100 hakim dikategorikan bermasalah, yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption.

Untuk mengantisipasi dan dan melakukan pengawasan terhadap aparat hukum di Indonesia dibentuklah berbagai macam komisi sebagai state auxilary bodies antara lain Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Hukum Nasional, KPKPN (sudah dibubarkan) dan KPK. Tidak cukup sampai disitu saja, tuntutan publik juga diarahkan untuk pembentukan lembaga pengawasan eksternal lembaga penegak hukum. Tuntutan inilah yang ada pada akhirnya direspon oleh pembentuk

Undang-Undang dengan mengamanatkan pembentukan komisi, misalnya Komisi Yudisial pembentukannya dimanatkan oleh konstitusi, Komisi Kepolisian diamanatkan oleh UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI mengmanatkan pembentukan Komisi Kejaksaan meskipun sifatnya tidak wajib. Sebagai tindak lanjut dari amanat pasal 38 UU Nomor 16 tahun 2004 (meskipun tidak imperatif) Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden RI No. 18 tahun 2005 tentang Komisi Kejaksaan Republik Indonesia.

Apakah dengan adanya mekanisme tersebut akan menghilangkan praktek mafia peradilan? Memang, adanya berbagai komisi yang diantaranya memiliki fungsi melakukan pengawasan terhadap aparat penegak hukum memang merupakan sebuah terobosan yang memiliki ’niat baik’, akan tetapi ’niat baik’ saja nampaknya tidak cukup. Sebagai contoh, belum lagi Komisi Yudisial berjalan efektif, sudah muncul masalah baru, yakni perseteruan Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung (MA).

Sesungguhnya, selain sistem pengawasan berbasis sistem, permasalahan mendasarnya justru karena tidak ada pengawasan yang melekat dan berdimensi ruhiyah. Konsekwensi dari sistem hukum dan peradilan sekular yang menafikan keberadaan Allah mengakibatkan mereka melakukan sesuatu tanpa memperhatikan benar-salah, baik-buruk apalagi halal-haram. Logika sederhananya, kalau hukum dibuat manusia, yang memerintahkan mentaati aturan adalah manusia, apa hubungannya dengan Allah dan akhirat?!

Penutup

Walhasil, sistem hukum dan peradilan sekular yang saat ini diterapkan sudah tidak bisa dipertahankan lagi, karena kerusakannya bukan hanya terletak pada kebobrokan moral aparat, akan tetapi dari kerusakan asas/landasannya yang pasti akan berbuah sistem dan aturan yang rusak pula. Wallahu A’lam.

About these ads

Agustus 5, 2008 - Posted by | Hukum |

14 Komentar »

  1. Boleh juga..
    Pemaparannya lengkap, logis, dan syar’i
    Terus bejuang dijalan dakwah saudari wia

    Komentar oleh Wahyudi | Agustus 5, 2008 | Balas

  2. Yang dibutuhkan rakyat indonesia saat ini adalah syariah islam, karena seperti yg kita pahami la izata ila bil syariah tidak ada kemulian tanpa syariah. artinya untuk mencapai kemulian (dikategorikan kesejahteraan, keamanan, ketentraman) maka satu2nya jalan yaitu dengan menerapkan syariah islam. Selama rakyat indonesia yg nontabe muslim ini tidak diterapkan syariah dalam kehidupan mereka maka selama itu pula keadilan akan menjadi fatmorgana/mimpi.
    Umat islam hanya akan mendapatkan keadilan jika syariah diterapkan dalam institusi negara.
    Ketidakadilan dan bobroknya hukum sekarang dapat dilihat dari kasus yg menimpa habib rizieq dan munarman, menurut tim pembela muslim, peradilan kasus habib hanyalah ‘peradilan main2′. So jangan berharap mendapat keadilan penuh dalam sistem hukum sekarang yg berasas kapitalis-sekuler. saatnya kta kembali pada syariah. ok

    Komentar oleh Al Fath An Nabhani | Agustus 26, 2008 | Balas

  3. Dasar negara kita adalah Pancasila, Sila pertama adalah Ketuhana Yang Maha Esa. Sila pertama ini menjiwai seluruh sila yang lainnya. Seluruh produk hukum di Indonesia harus telah lulus dari uji materi ini.
    Walaupun kita melihat banyak penyimpangan-penyimpangan di dalam penerapannya, itulah konsekwensi bagi negeri yang sedang belajar ini. Kita masih meraba-raba yang terbaik bagi kita. Undang-Undang Dasar bisa berubah, tetapi bentuk Negara tidak bisa berubah. itulah Indonesia.

    Wia menjawab :
    >> “Bentuk kesatuan negara kita memang tidak bisa diganggu gugat. Tapi sistem dan bentuk pemerintahan masih bisa. Negeri ini sudah terlalu lama belajarnya, sudah 63 tahun, dibanding teman sebangkunya yg dulu sekelas sekarang sudah maju meninggalkan kita. Selalu ada pilihan dan jalan untuk berubah. Saya setuju dengan Albert Einstein “Jangan berputar-putar pada satu ide yang jelas gagal, karena tidak akan ada yang didapat kecuali kebuntuan.”

    Komentar oleh yudios | September 2, 2008 | Balas

  4. setuju..! kalo ada hukum yang jelas2 turun dari Alloh untuk manusia, kenapa manusianya yang sombong tidak mengikuti petunjuk-Nya walaupun sudah terbukti kebobrokannya.
    kalopun posisi presiden kita dipegang oleh ulama sekalipun, tetap saja akan terperangkap dengan sistem yang tidak baik.
    salut bwt wia, nice article..

    Komentar oleh aris nurzaman | November 24, 2008 | Balas

  5. Dee,
    Saya adalah laywer dan mulai masuk ke dunia ini sejak tahun 1988 dan masih menjadi lawyer hingga saat ini..
    Betul sekali ada beberapa faktor yang mempengaruhi hingga terjadinya kebobrokan pelaksanaan hukum di negara kita tercinta saat ini. Saya melihatnya secara lebih sederhana.

    Secara hukum normatif, hukum dikita itu gak jelek2 amat dan masih cukup akomodatif. Apalagi kita kan menganut aliran Hakim yang harus bisa mengisi kekosongan hukum (jika emang itu kosong). Tapi hampir semua hukum kita itu sudah ada fondasinya walau peratusan pelaksanaannya kadang gak sempurna. Jadi diaspek ini menurut saya hukum kita tidak terlalu bermasalah dan bahkan boleh dibilang cukup baik.

    Hukum dalam praktek (di polisi, kejaksaan, pengadilan) dibidang Pidana ataupun (di pengadilan) dibidang Perdata inilah masalah yang luar biasa parah. Sementara kita sisihkan dulu hukum2 lain (diluar pidana dan perdata)untuk menyederhanakan tinjauan kita. Kenapa sedemikian parah ? Karena hampir seluruh sendinya sudah rapuh digrogoti oleh penyakit KORUPSI. Hukum diperdagangkan seperti barang dagangan di pasar dan pembayar tertinggi akan menjadi pemenang, no matter the legal position is. Sedemikian parahkan. Kalo saya yang ditanya, jawaban saya (pribadi), YA.

    So, kesimpulan saya hukum kitakan yang bobrok? Menurut saya tidak. Yang bobrok adalah Aparat Penegak Hukum. Jika Hakim yang sebelum bekerja itu pake DISUMPAH dengan meletakkan kitab suci diatas kepalanya dan menyebutkan “Demi Allah saya bersumpah..” lalu dalam bekerja membuat keputusannya dengan irah2 :DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” ternyata tak membaca berkas, menilai bukti dan hanya mengikuti mau sipembayar terbesar, kita sudah bisa bayangkan akan seperti apa wajah hukum kita (didalam praktek). Jika (maaf jika saya jadi suka berandai2), semua polisi, jaksa, lawyer bobrok sekalipun tapi Hakim tetap memutus perkara yang dihadapinya SEMATA-MATA dengan pertimbangan ATURAN HUKUM yang berlaku, apakah bermain uang disini akan menentukan? Tidak. Orang akan berlomba2 mengembangkan intelektualitas dan kualitas untuk bisa berargumen sesuai ATURAN HUKUM dan bukan sekedar pokrol2an dengan argumen gak jelas dan bahkan memutar balikkan fakta.

    Jadi sentralnya Hakim? Menurut aya, YA. Jika semua Hakim bersih (dan capable) kita akan bisa mempercepat perbaikan wajah hukum di Indonesia.

    Namun jika untuk masuk jadi Hakim aja sudah mesti bayar, untuk lulus pendidikan bayar, untuk mendapatkan penempatan (yg dianggap enak) bayar… Kira2 kualitas Hakim seperti apa yang kita punya pada saat ini..??

    Budaya yang sama (korupsi) sudah berlangsung lama dan merambah dihampir seluruh sektor kehidupan pemerintahan di negara kita tercinta ini Dee.. Tak terkecuali bidang-bidang yang seharusnya mengurusi soal moral seperti pendidikan, agama, dsb.

    Ini adalah sejarah yang kita gak bisa hindari sekarang Dee..
    Ini menurut saya adalah harga termahal yang harus diterima bangsa ini akibat sejak kemerdekaan (khususnya jaman orde baru) kita hanya melakukan pembangunan fisik dan ekonomi. Tak memperdulikan pembangunan moral dan sumber daya manusia kita secara lebih menyeluruh.

    Lantas saat ini dan kedepan gimana? Saya termasuk orang yang sudah muak dan mau muntah (maaf) dengan semua itu. Tapi kita kan gak boleh putus asa. Menurut saya yang saat ini kita butuhkan adalah SEORANG PEMIMPIN YANG KUAT, MEMPUNYAI INTEGRITAS DAN MAU, BERANI SETA SANGGUP MELAKUKAN PERUBAHAN. Kapankan kita akan dapatkan Pemimpin seperti itu..?? Mungkin perlu beberapa kali pemilu lagi, mungkin saya juga gak akan sempat menikmatinya lagi.. Entahlah. Tapi saya masih terus berharap.. :)

    Komentar oleh agustusnugroho | November 25, 2008 | Balas

  6. hukum di indonesia memang sudah bobrok, baik dr atas smpe bawah n ditambah lagi dng masyrakatnya yg kebanyakan brengsek.
    kalo soal tipu menipu, korup mengkorup, hina menghina, pukul memukul n bunuh membunuh..jagonya n sangat ahli alias no 1.
    dinegara lain selain indonesia yg namanya korup n sbagainya ada juga,tapi yg jadi pertanyaan.., kenapa mereka bisa maju?, knapa pembangunannya megah dan merata? kenapa pendidikan n pelayanan kesehatannya mudah dan bagus?.

    soal pemimpin di indonesia siapa aja boleh tapi apa sanggup ngadapin negara yg begitu bobroknya?.okelah pemimpinnya bagus n bertekad memperbaiki keadaan negrinya,tapi bagaimana dng masyarakatnya yg sdmnya,sosialnya,kesadarannya bobrok alias mang gue pikirin?
    begitu pula sebaliknya.smua itu sudah terbukti.

    menurut gue indonesia akan berubah bila ada sebuah hembusan angin yg membunuh setiap orang2 yg berakal busuk,pencuri, penajahat perang,perampok,pemerkosa yg pokoknya menyangkut dosa dan tinggallah orang2 yg baik dan jujur, gue yakin indonesia bakal maju n makmur. bila perlu kita mohon doa sama allah swt agar dunia ini cepat kiamat agar semua jelas n kitapun gak bertambah dosa lgi trus yg didalm kuburpun gak tunggu2 lagi,gimana..?

    jadi gak usah repot2 komentar ini itu karna ntar kalo perut kita lapar ato anak sakit ato juga butuh biaya kontrakan dll pasti ujung2nya korup ato ngerampok.mendingan jalanin aja apa adanya semampu kita n berdoa kepada allah swt agar kita senantiasa diberikan rejeki n di jauhkan dr segala musibah dan keburukan.kalopun mau ngebantu orang berikan dng niat yg ikhlas tanpa mikir sana sini.

    perbaiki diri kita dulu, insya allah kita bisa memperbaiki indonesia.

    Komentar oleh jhon | Februari 20, 2009 | Balas

  7. […] kebobrokan hukum indonesia. [1] Widia Ayu Rekti, Kebobrokan Sistem Hukum Dan Peradilan Indonesia, http://rektivoices.wordpress.com/2008/08/05/kebobrokan-sistem-hukum-peradilan-indonesia/, Diakses  Tanggal 20 Desember […]

    Ping balik oleh Aldianharikhman's Blog | Desember 29, 2009 | Balas

  8. Menurut gue??? Indonesia perlu perbaiakn
    Mohon kepada pemerintah untuk lebih adil!!

    Komentar oleh MARRY | November 24, 2010 | Balas

  9. hahahahahaha
    tunggu saya jadi Presiden kawan-kawan…..
    Semua koruptor saya hukum……
    Hukum Pancung!!!!

    Komentar oleh Guantengz | Januari 12, 2011 | Balas

  10. Sistem yang bobrok mengakibatkan orang-orangnya bobrok juga…
    kita tahu apa sistem yang dianut sekarang..
    pasal-pasalnya bertentangan!!!
    contoh pasal 27 dengan UU Migas, apa-apaan itu,, buat aturan kok mencla-mencle githu..
    sudah saatnya kita ganti sistem ini dengan sistem yang jelas-jelas datang dari pencipta kita sendiri!!!

    Komentar oleh Sang Pejuang Khilafah | Februari 23, 2011 | Balas

  11. terima kasih share infonya :)
    sangat membantu (tugas kuliah) :D

    Komentar oleh Dwi | Mei 10, 2011 | Balas

  12. Saya setuju dg anda

    Ya inilah wajah buram bangsa qta, negara qta banyak ditimpa musibah bermacam2 karena bangsa qta tdk mnggunakan hukum alloh tp qta mnggunakan hukum thogut hukum orang2 kafir dn inilah laknat dr alloh pedoman bangsa qta pancasila pdhl yg sejatinya adlh al quran.

    Komentar oleh arif ginanjar | Januari 15, 2012 | Balas

  13. Artikel yang bagus.

    Komentar oleh fakultashukum uii | Oktober 25, 2013 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 213 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: